Menyelamatkannya Lagi

964 Kata
Hati Sena begitu sakit mendengar ucapan Hansel yang tidak berperasaan. Bagaimana bisa Hansel ikut merendahkan Sena seperti itu. Sena yang tidak terima pun makin meronta, namun Hansel tidak peduli dan terus menyerang sampai ia berhasil meraup bibir Sena. "Mmpphh ...." Sena menutup bibirnya rapat-rapat saat Hansel mulai memagut bibirnya. Sena mendorong Hansel sekuat tenaga, walaupun tenaganya tidak ada artinya dibanding tenaga Hansel. Dalam hatinya, Sena berharap semoga saja ada tetangga atau siapa pun yang datang menyelamatkannya, walaupun kemungkinan itu hampir mustahil. Tubuh Sena pun makin gemetar membayangkan hal yang sama akan kembali terulang, ia akan dilecehkan lagi. Pertama oleh pria b******k itu dan sekarang oleh kekasihnya yang seharusnya paling menjaganya. Tapi tidak, kali ini Sena tidak akan menyerah begitu saja. Sena harus melindungi dirinya dan tidak boleh dilecehkan lagi. Dengan susah payah, Sena mencoba menggerakkan kakinya untuk menendang Hansel, namun sayangnya kakinya juga dihimpit oleh Hansel sampai ia kesulitan bergerak. Dalam kepanikannya, Sena pun tidak punya pilihan lain selain menggigit bibir tebal Hansel kuat-kuat sampai pria itu memekik kencang. "Akhh, apa yang kau lakukan, Sena?" pekik Hansel yang mendadak melonggarkan pelukannya. Kesempatan itu digunakan oleh Sena untuk mendorong keras-keras tubuh Hansel dan Sena pun bangkit dari sana sampai Hansel refleks mencekal kaki wanita itu. "Sena!!!" geram Hansel. Namun, Sena yang panik langsung bergerak asal dan menendang Hansel sebelum ia berlari menjauh dari Hansel. "Pergi dariku, Hansel! Pergi!" pekik Sena sambil berlari ke arah pintu rumah yang tidak jauh darinya dan Sena berniat melarikan diri. Namun sialnya, pintu rumahnya terkunci sampai Sena butuh waktu untuk membuka kuncinya. Dan sialnya lagi, dalam keadaan panik, seseorang akan mendadak menjadi bodoh. Bahkan untuk membuka kunci pintu rumahnya saja Sena tidak mampu dan tangannya sangat gemetar. Hingga akhirnya lagi-lagi Hansel bisa menangkapnya. Hansel memeluknya dari belakang dan menggendongnya sampai ia tidak bisa meraih pintunya lagi. "Kau mau ke mana, Sena? Kita belum selesai, Sayang!" "Tidak, turunkan aku, Hansel! Turunkan aku!" "Tidak akan! Malam ini kau akan menjadi milikku, Sena!" "Akh, tidak, Hansel! Tolong!!" pekik Sena lagi yang sudah dibawa ke kamar oleh Hansel. Sementara itu, Xander masih terdiam di dalam perjalanan pulang. Sesekali Xander akan berdecak kesal, namun sedetik kemudian ia akan kembali terdiam. Tentu saja Xander begitu pandai menjaga ekspresi wajahnya yang tetap datar dan bengis, namun sungguh hatinya tidak tenang saat ini. Entah mengapa di dalam otaknya hanya ada gambaran Sena yang sedang berteriak seperti malam itu karena dilecehkan oleh Hansel dan Xander begitu geram membayangkannya. Bukannya Xander menyukai wanita itu atau peduli padanya, tapi bagaimanapun kenyataan bahwa Xander adalah pria yang pertama untuk Sena, tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan Xander mendadak merasa tidak rela kalau wanita itu disentuh oleh Hansel, pria b******k itu. Xander pun terus berpikir keras dengan matanya yang sudah memicing sempurna dan rahangnya yang mengeras. Henry sendiri yang masih menyetir pun terus memperhatikan bosnya yang terlihat tidak tenang. Alis Xander berkerut dan bosnya itu terlihat sedang memikirkan sesuatu yang serius. "Kita langsung pulang kan, Pak? Anda tidak perlu ke mana-mana lagi?" tanya Henry. "Sial! Haruskah kau bertanya lagi, Henry? Kita langsung pulang dan tidak perlu ke mana-mana lagi!" tegas Xander geram. Sungguh, pikiran Xander masih dipenuhi oleh Sena, tapi apa pun yang terjadi pada wanita itu, bukankah tidak ada hubungannya dengan Xander? Ya, biar saja wanita itu merasakan akibat dari ulahnya sendiri. Xander mengembuskan napas beratnya, tapi Xander tetap diam dan mobil pun terus melaju ke arah rumah Xander. Sampai tidak lama kemudian, mendadak Xander tidak dapat menahan dirinya lagi. "Sial! Kita tidak jadi pulang, Henry! Kita ke rumah Sena sekarang!" titah Xander. Henry yang mendengarnya langsung menaikkan alisnya tidak yakin. "Ke rumah Sena?" ulang Henry lagi. "Kau mendengarku, Henry! Kita ke rumah Sena sekarang!" tegas Xander lagi dengan nada suara yang meninggi. "Ah, baik, Pak!" Henry pun mengangguk dan langsung memutar balik laju mobilnya ke rumah Sena. Dengan cepat, mereka tiba di sana dan Xander pun langsung melangkah ke arah rumah Sena sambil mengumpat melihat sepeda motor Hansel yang diparkir di pinggir rumah. "Sial! Pria b******k itu!" geram Xander. Dua orang anak buah Xander yang masih tetap setia mengawasi Sena dari kejauhan pun melihat Xander dan segera menghampiri bosnya itu. "Pak!" sapa dua orang itu. Namun, Xander tidak mempedulikan mereka dan langsung menekan gagang pintu rumah Sena. "Sial, terkunci!" umpat Xander lagi sambil terus menekan gagang pintu rumah Sena. "Sena, kau di dalam? Sena!" teriak Xander sambil memukul pintu rumah Sena, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Xander terus mengumpat frustasi sambil mencoba mendobrak pintu itu namun tidak bisa. Sampai samar-samar, Xander bisa mendengar suara teriakan dari dalam rumah yang membuat Xander pun makin dibakar emosinya. Sena sendiri masih terus berteriak saat akhirnya Hansel berhasil mengungkungnya di atas ranjang. Butuh perjuangan yang cukup keras dari Hansel untuk membawa Sena ke ranjang karena wanita itu benar-benar melawan, namun Hansel berhasil. Bahkan Hansel juga berhasil menyibak kaos Sena sampai d**a wanita itu terbuka dan Sena begitu gemetar merasakannya. "Hansel, lepas! Hansel!" Sena memberontak sekuat tenaga, namun Hansel yang sudah diliputi hasratnya sama sekali tidak mempedulikannya. Sena juga terus berteriak minta tolong sambil menangis sampai ia tidak mendengar suara Xander memanggilnya. "Sstt, jangan berteriak lagi, Sayang! Aku tidak akan menyakitimu kalau kau menurut, Sayang. Kita akan bersenang-senang, aku berjanji." "Tidak! Kau begitu tega padaku! Lepaskan aku! Lepas!" "Kau juga sudah tidak perawan kan, Sena. Tidak ada ruginya melakukannya lagi denganku, Sayang. Dan aku janji aku akan lebih memuaskanmu dibanding pria itu," bisik Hansel dengan tangan yang mulai bergerilya di atas tubuh Sena, menyentuh setiap bagiannya dengan penuh nafsu. Hansel yang tidak tahan lagi pun langsung berkutat dengan kancing celananya dan berniat membebaskan sesuatu yang sudah sesak di sana. Namun, sebelum Hansel sempat melakukan apa pun, pintu kamar Sena sudah didobrak dengan keras. Brak! Sontak Hansel pun menoleh kaget dan langsung membelalak lebar menatap seorang pria yang sudah berdiri di sana dengan penuh amarah. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN