Luka Pengkhianatan

769 Kata
Aku pernah berpikir bahwa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan adalah ditinggalkan. Ternyata aku salah. Yang paling menusuk, justru saat orang-orang yang seharusnya berdiri di sisimu—malah menyuruhmu pergi. Hari ini hujan turun deras, seolah langit ikut meratap untukku. Di ruang tamu yang sunyi, hanya ada denting gelas teh dan suara hatiku yang remuk berkeping-keping. “Dia masih muda, Ayla. Kamu harus mengerti.” Itu suara Ayah. Tegas, seperti biasa. Tapi kali ini tidak terasa seperti pelindung, melainkan hakim yang telah menjatuhkan vonis. Aku menatapnya—pria yang dulu menggendongku saat demam, mengajarkan membaca, dan berjanji akan selalu menjadi tempat pulang. Tapi hari ini—dia lebih memilih membela Dira. Adikku. Gadis manis yang tumbuh di bawah atap yang sama, yang dulu kupeluk saat dia menangis karena mimpi buruk. Yang kini justru tidur di pelukan tunanganku. “Dia tidur dengan Raka, Yah,” suaraku bergetar, nyaris tak terdengar. “Calon suamiku. Tunanganku. Apa itu masih bisa dimaklumi hanya karena dia masih muda?” Ayah menghela napas, tidak menatapku. “Kamu terlalu keras, Ayla. Dira sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya.” Menyesal? Aku ingin tertawa—tapi yang keluar hanya isak pelan yang tertahan. Di mataku, dunia ini tak lagi memiliki warna. Bahkan biru langit yang dulu selalu kujadikan penenang, kini terasa asing. Palsu. Tangisku masih tertahan di kerongkongan saat Dira mendadak menjatuhkan tubuhnya ke lantai. “Kak Ayla—aku minta maaf. Aku nggak pernah berniat merebut Mas Raka, aku nggak tahu kenapa semua ini bisa terjadi!” suaranya pecah, tangisnya histeris. Dia menggenggam ujung rokku, memeluk kakiku seperti anak kecil yang memohon ampun. Tapi aku mengenal mata itu. Matanya tidak berkaca-kaca karena penyesalan—melainkan karena ketakutan kehilangan sesuatu yang baru saja direbut dari tanganku. “Dira, cukup,” bisikku tajam. Tapi tangisnya makin menjadi. “Aku cuma butuh dicintai, Kak. Mas Raka bilang dia bingung. Dia juga bilang sayang sama aku—tapi dia tetap pilih Kak Ayla. Aku nggak tahu harus gimana.” Dan di situlah suara paling membuatku muak muncul dari balik dapur. “Sudahlah, Ayla. Adikmu sudah meminta maaf. Kamu ini kakaknya, harusnya bisa memaafkan dan membimbing, bukan malah menghakimi!” Itu suara Ibu—atau lebih tepatnya, ibu tiriku. Wajahnya datar, tapi sorot matanya dingin dan penuh tuduhan, seolah akulah penjahat dalam kisah ini. “Maaf?” tanyaku, tertawa hambar. “Ibu tahu Dira tidur dengan tunanganku. Di belakangku. Dan sekarang Ibu menyuruhku memaafkannya—hanya karena dia anak kandung Ibu?” “Jangan bicara seolah kamu tidak pernah salah, Ayla. Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan, dengan kesempurnaanmu itu—siapa yang tahan hidup denganmu?” Kata-katanya menampar lebih keras daripada apa pun. Dadaku terasa sesak, seolah udara di ruangan itu menolak untuk masuk ke paru-paruku. Jadi ini semua salahku? Ruangan itu semakin sempit. Bukan karena ukurannya, tapi karena setiap kalimat yang terucap semakin menghimpit dadaku. Tangis Dira terus menggema, seolah-olah dia adalah korban dalam drama menyedihkan yang mereka ciptakan bersama. Dan Ayah—diamnya lebih menyakitkan daripada teriakan apa pun. “Ayah cuma ingin rumah ini tenang,” ucapnya akhirnya, suaranya berat. “Sudah cukup keributan ini. Kamu bisa pergi dulu dari sini, Ayla.” Aku membeku. “Apa maksud Ayah?” Ayah menghela napas, menatapku lama. “Kamu sudah cukup dewasa. Sudah mapan. Punya pekerjaan bagus. Rumah sendiri. Sementara Dira—dia masih butuh bimbingan. Butuh keluarga.” Butuh keluarga? Lalu aku ini apa? Aku menahan napas, berusaha memahami logika di balik kata-katanya yang terasa seperti pisau. Tapi tak ada logika dalam pengkhianatan. Tak ada pembenaran dalam memihak yang salah, hanya karena ikatan darah. “Jadi aku yang harus keluar dari rumah ini?” suaraku pelan, nyaris berbisik. “Ini bukan soal salah atau benar. Tapi soal siapa yang bisa lebih kuat menahan diri. Kamu lebih kuat dari Dira. Itu yang Ayah tahu.” Kuat? Aku ingin tertawa. Atau mungkin menangis lebih keras. Tapi yang keluar hanya sunyi. Luka yang terlalu dalam tak selalu bersuara. “Baik,” ucapku akhirnya. Dingin. Datar. Aku berdiri, menatap mereka satu per satu. Wajah-wajah yang dulu kuanggap keluarga. Kini, hanyalah aktor-aktor dalam panggung pengkhianatan. “Kalau begitu, kalian tak perlu khawatir. Aku akan keluar malam ini juga.” Aku menoleh ke Dira. “Semoga Raka bisa mengisi kekosongan yang bahkan cinta seorang ayah dan ibu—tak pernah mampu memenuhi hidupmu.” Dan kepada Ayah, aku hanya berucap lirih, “Terima kasih sudah membuatku sadar, kadang keluarga tak harus serumah. Dan rumah tak selalu punya dinding.” Aku melangkah pergi. Tak membawa koper, tak membawa marah. Hanya membawa hati yang patah—dan sebuah tanya: Apa arti pulang, kalau semua pintu justru menolak kehadiranmu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN