Sepanjang acara, aku sulit berkonsentrasi. Gelas di tanganku terasa dingin, tapi pikiranku justru dipenuhi berbagai kemungkinan hukuman absurd yang mungkin sedang dirancang Mahendra. Hukuman seperti apa yang dia maksud? Dan—yang lebih mengganggu—siapa yang tega melaporkan aku, hanya karena mengobrol sebentar dengan Rayhan? Mataku bergerak pelan, menyapu ruangan. Dirga? Mungkin. Tapi kalau memang dia, kenapa wajahnya tadi begitu santai—bahkan masih sempat menggoda? Atau— Bu Renata? Aku menelan ludah. Bu Renata memang tidak berkata apa-apa tadi, tapi bukan berarti dia tidak memperhatikan. Tatapannya tajam. Bisa saja dia melihatku duduk semeja dengan pria lain, lalu melapor ke Mahendra dengan nada bercanda—yang tentu saja akan ditanggapi putranya dengan sangat serius. Dan kalau bukan Bu R

