Begitu pintu terbuka, sosok Bu Sania langsung berdiri di depan dengan senyum tipis yang sulit ditebak. Matanya menyapu Bima dari atas sampai bawah—kaos dalam, celana boxer, rambut sedikit acak-acakan. Alisnya terangkat, senyum itu perlahan melebar. “Astaga, ini beneran Bima, putra sulungku yang biasanya tampil klimis kayak model iklan parfum?” godanya sambil melipat tangan di d**a. Bima menahan napas, berusaha terlihat tenang meski telinganya sudah terasa panas. “Ma, tadi aku ketiduran setelah sampai apartemen,” jawabnya kaku, mencoba menahan malu. Bu Sania mendekat selangkah, menepuk-nepuk bahu putranya dengan tatapan jahil. “Baru bangun atau baru selesai sesuatu, hm?” ucapnya dengan nada penuh arti. Bima mendengkus pelan, memilih menunduk sambil mempersilahkan sang mama masuk. “Masuk

