Ekstra Part 2. Bima-Nina

1666 Kata

Begitu pintu terbuka, sosok Bu Sania langsung berdiri di depan dengan senyum tipis yang sulit ditebak. Matanya menyapu Bima dari atas sampai bawah—kaos dalam, celana boxer, rambut sedikit acak-acakan. Alisnya terangkat, senyum itu perlahan melebar. “Astaga, ini beneran Bima, putra sulungku yang biasanya tampil klimis kayak model iklan parfum?” godanya sambil melipat tangan di d**a. Bima menahan napas, berusaha terlihat tenang meski telinganya sudah terasa panas. “Ma, tadi aku ketiduran setelah sampai apartemen,” jawabnya kaku, mencoba menahan malu. Bu Sania mendekat selangkah, menepuk-nepuk bahu putranya dengan tatapan jahil. “Baru bangun atau baru selesai sesuatu, hm?” ucapnya dengan nada penuh arti. Bima mendengkus pelan, memilih menunduk sambil mempersilahkan sang mama masuk. “Masuk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN