"Galang!" seru Nina setengah berteriak. "Ngapain kamu di sini?" Pintu tertutup pelan. Galang masuk dengan langkah hati-hati—takut membangunkan Dirga yang masih tertidur pulas di sofa. "Jangan keras-keras, Nin!" tegur Galang pelan. "Mau jadi istrinya Pak Bima harusnya anggun dan lemah lembut. Bukan kayak alarm kebakaran.” Nina mendengkus. “Mas Bima nggak nyuruh aku berubah jadi kayak princess—katanya aku boleh jadi diri sendiri. Soalnya dia suka aku apa adanya,” bantahnya. “Kamu langsung percaya gitu aja?” tanya Galang, sambil meletakkan buah di atas nakas kecil di samping ranjang. Dia lalu duduk di seberang Nina. “Ya iyalah. Masa aku nggak percaya sama calon suami sendiri,” jawabnya sambil tersenyum malu-malu. Aku terkekeh pelan melihat perubahan ekspresi sahabatku. Lucu sekali—padah

