Video yang kubuat sudah dikirim Dirga ke Mahendra. Sekarang, aku hanya bisa menunggu jawabannya. Tapi hingga tengah malam begini, Mahendra masih sibuk menatap tabletnya—tanpa sedikit pun menyinggung permintaanku di video itu. Jujur saja, aku penasaran. Tapi Dirga melarangku bertanya—katanya, aku harus menunggu sampai Mahendra sendiri yang bicara. Tapi, kapan? Seharusnya, dia langsung mengatakan sesuatu begitu pulang dari meeting dengan klien tadi—bukan malah bersikap seolah aku tak melakukan apa-apa. Jangan-jangan dia belum membuka pesan videonya? Mahendra memang sibuk luar biasa. Jarang sekali punya waktu untuk sekadar membalas pesan. “Sayang—” Duh, ketahuan. Ya gimana, aku memang penasaran setengah mati sampai susah tidur. “Ada yang sakit?” tanya Mahendra lagi. Kini dia sudah du

