Ayla Bucin Prameswari

1208 Kata

“Ayla, Sayang—sini duduk di sebelah Mama,” panggil Bu Renata begitu aku baru saja duduk di samping Mahendra. “Aku duduk di sini saja, Ma,” jawabku. “Di sebelah sana terlalu dingin.” “Benarkah?” Bu Renata mencoba merasakan suhu di sekitarnya. “Sepertinya seluruh ruangan ini memang terasa dingin.” Tentu saja lounge VIP bandara memang terasa dingin—bukan hanya di satu sisi saja. Alasan tadi hanyalah karanganku belaka, agar Bu Renata tidak menyuruhku pindah tempat duduk. Saat ini, kami sedang menunggu pesawat yang akan membawa rombongan keluarga Wirasatya menuju Solo. Tadi, saat keluar dari rumah sakit, aku dijemput oleh banyak orang. Rasanya seperti iring-iringan pengantin—hingga membuat banyak orang terheran sekaligus terkagum. Jujur saja, ini pertama kalinya aku sakit dan mendapat beg

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN