Sesampainya di Solo, kami langsung menuju hotel untuk beristirahat. Acara lamaran akan diadakan besok siang, dan jarak dari hotel ke rumah orang tua Nina cukup dekat, jadi tidak perlu terburu-buru. Setelah turun dari pesawat, aku tak lagi bergelayut manja pada Mahendra—melainkan memilih berpindah ke sisi Bu Renata. Aku masih kesal dengan ulah Dirga yang sengaja menjahiliku, dan Mahendra yang justru terlihat menikmati aksi iseng sepupunya itu. Pantas saja saat menjemputku di rumah sakit tadi pagi, Oma terlihat agak aneh—pasti saat melihatku, yang terlintas di benaknya adalah video konyol yang kubuat kemarin. “Sayang, nanti sore kita kulineran bareng Mama, ya,” ujar Bu Renata sambil menoleh padaku. “Kemana, Ma?” tanyaku antusias. Tapi raut wajah beliau langsung berubah ragu. “Eh, tapi

