Begitu tiba di rumah sakit, beberapa perawat langsung membawaku ke IGD dengan ranjang dorong. Mas Mahen tak pernah melepaskan tanganku, wajahnya pucat dan tegang. Sementara itu, Galang mengurus semua berkas yang dibutuhkan. “Sayang, tenang ya. Aku di sini, aku nggak akan ninggalin kamu,” bisik Mas Mahen sambil mengecup keningku. Genggamannya erat, seolah ingin memastikan aku tidak merasa sendirian. Dokter jaga segera datang, memeriksaku dengan sigap. Setelah beberapa menit, dia menatap kami dengan raut serius. “Bu Ayla sudah pembukaan tiga. Harus segera dipindahkan ke ruang perawatan untuk pemantauan lebih lanjut.” Jantungku berdegup kencang, antara takut dan tak percaya. “Mas, ini aku beneran mau lahiran, ya?” tanyaku dengan suara bergetar. Mas Mahen mengangguk cepat, berusaha tersen

