“Sayang, kamu yakin kuat? Perutmu sudah besar sekali,” ucapnya sambil membantuku memasang sabuk pengaman di mobil. Aku menarik pelan pipi Mas Mahen dan berkata, “Aku cuma duduk manis kok, Mas. Lagi pula bosan kalau seharian di rumah.” Mas Mahen menghela napas, lalu mengecup keningku. “Baiklah. Tapi janji jangan sibuk keluar masuk ruangan cuma buat menggoda Galang.” Aku mengangguk manis sebagai jawaban. Namun, dalam hati aku sudah merencanakan serangan kecil untuk Galang. Kabarnya, dia sebentar lagi akan melamar gadis pilihan Mamanya. Ah, tentu saja aku tidak bisa melewatkan kesempatan emas untuk menggoda Galang sebelum dia resmi jadi tunangan orang. Perjalanan pun lancar. Mobil melaju pelan, sementara Mas Mahen tampak sibuk dengan iPad di pangkuannya. Sesekali jarinya mengetik cepat, s

