“Ay, ayo kita foto. Aku belum punya satupun foto sama kamu,” ajak Dirga dengan senyum lebarnya yang khas. “Ganti panggilan,” titah Mahendra tegas, matanya menyipit penuh peringatan. “Apaan, sih? Udah nikah juga masih aja posesif,” balas Dirga, nada suaranya setengah kesal, setengah menggoda. Mahendra melangkah setengah ke depan, tubuhnya sedikit menghalangi Dirga dari pandanganku. “Bukan posesif. Aku cuma nggak suka orang lain manggil istriku dengan nada manja seperti itu.” Dirga mengangkat alisnya, lalu menatapku sambil terkekeh. “Orang lain? Ayla itu sekarang sepupuku, Mahen.” Aku menikmati makan malam sambil memperhatikan perdebatan kecil antara Mas Mahen dan Dirga. Entah kenapa, mereka selalu saja mempermasalahkan soal panggilan. Tak ada yang mau mengalah—keduanya sama-sama keras

