Sudah Boleh Nyicip?

1067 Kata

Begitu kami menjauh dari keramaian, aku menatap Mas Mahen dengan rasa bersalah, berusaha mengumpulkan keberanian untuk bicara sambil menahan napas yang terasa berat di d**a. Kata-kata terasa mengganjal di tenggorokan, tapi aku harus mengatakannya. “Aku minta maaf,” suaraku lirih, nyaris tenggelam oleh musik pesta di belakang kami. “Gara-gara keluargaku, keluarga Wirasatya jadi bahan omongan orang.” Mas Mahen menatapku beberapa detik, lalu menggeleng pelan. “Kamu nggak perlu minta maaf, Sayang. Mereka yang salah, bukan kamu.” “Tapi tetap saja—” aku menunduk, menahan perih yang mendesak di d**a. “Rasanya aku bikin nama keluargamu jelek.” Mas Mahen menghela napas, kemudian menggenggam tanganku lebih erat. “Nama keluargaku nggak akan runtuh cuma karena omongan orang. Dan satu hal yang haru

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN