Degup jantungku memekakkan telinga, seolah menelan suara sahabatku yang duduk khidmat di sebelah. Tanganku menggenggam erat ujung kain kebaya. Dari layar monitor, kulihat Mahendra duduk tegak di hadapan penghulu—wajahnya tenang, nyaris tak terbaca. "Untuk wali, silakan maju ke depan karena ijab qabul akan segera dimulai," suara penghulu terdengar tegas dan berwibawa. Nafasku nyaris tercekat saat melihat seseorang yang kukira tak akan berkenan hadir di hari penting ini. Ayah—dia datang seorang diri dan duduk di sebelah penghulu. Ayah menarik napas panjang sebelum menjabat tangan Mahendra. "Saya nikahkan engkau, Mahendra Wirasatya bin Aditya Wirasatya, dengan putri kandung saya, Ayla Prameswari binti Doni Wijaya, dengan mas kawin berupa emas seberat seratus gram dibayar tunai." Suasana m

