Sore ini, ruang ballroom hotel ditata hangat dan khidmat. Karpet tebal berwarna krem terbentang rapi, dihiasi bunga melati dan mawar putih di beberapa sudut ruangan. Di tengah, para keluarga dekat duduk melingkar dengan busana rapi bernuansa pastel. Asisten pribadi Bu Renata sibuk mondar-mandir memastikan semua berjalan lancar, sesekali memberi arahan pada tim WO. Dari pintu masuk, aku melihat beberapa tamu yang sangat penting buatku sudah hadir— keluarga dekat Bunda dari Bandung. Ada Tante Chandra, Faiza, dan suaminya, Damar. Begitu pandangan kami bertemu, mereka tersenyum lebar lalu berjalan cepat ke arahku. Faiza merangkulku erat, wajahnya sumringah penuh kehangatan. “Selamat ya, Kak. Semoga semuanya lancar,” katanya pelan. Aku membalas senyumnya, menatap matanya yang bersinar. “Maka

