Menuju Hari H

1113 Kata

Aku dan Mahendra melangkah ke ruang keluarga lantai 2, tempat Oma, Opa, dan Tante Sania sedang duduk. Begitu melihatku, Oma langsung bangkit dan memeluk erat. “Maaf ya, Nak,” ucapnya lembut sambil menepuk punggungku. “Cucu Oma ini keras kepala sekali, sampai-sampai kamu ikut kena imbasnya.” “Nggak apa-apa, Oma. Saya sudah terbiasa menghadapi sikap keras kepalanya.” Mahendra langsung protes, “Sayang—” "Kamu diam dulu. Oma lagi ngomong sama calon istri kamu." Mahendra mengangkat kedua tangan, tanda menyerah. Sementara itu, Opa yang sejak tadi memegang tongkatnya menghela napas panjang, lalu menatap Mahendra dengan sorot mata serius. “Mahen, pernikahan itu bukan cuma soal akad. Ini tentang komitmen, kesabaran, dan tanggung jawab. Kalau kamu masih membawa emosi seperti tadi, bagaimana k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN