Pertengkaran antara Mahendra dan Bima baru saja mereda. Wajah keduanya tampak lebam, sudut bibir berdarah, dan napas masih memburu. Mereka saling menatap—bukan dengan kebencian, melainkan dengan kelegaan, seolah beban lama baru saja terlepas. Opa dan Oma tiba tepat ketika kedua cucunya itu masih baku hantam. Tanpa komentar panjang, mereka hanya menatap singkat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan tenang, seolah paham bahwa urusan itu harus diselesaikan di antara mereka sendiri. Tak lama, Dirga muncul bersama Bu Sania. Rupanya, dia ikut datang ke Bali tanpa memberi kabar sebelumnya. Keluarga inti Wirasatya hampir lengkap—tinggal menunggu kedatangan Pak Aditya dan Febi untuk benar-benar berkumpul. “Kamu yakin mau melangkahiku?” tanya Bima, masih terbaring di atas rerumputan, nafas

