Setelah rencana pernikahan pertamaku gagal, aku tak lagi punya gambaran tentang pernikahan impian. Aku hanya ingin satu hal: suami yang baik, setia, dan mampu menerimaku apa adanya. Karena itu, aku menyerahkan semua urusan pada Bu Renata. Mulai dari pemilihan gaun, lokasi pernikahan, hingga detail dekorasi—semuanya aku pasrahkan padanya. Aku tak ingin pusing memikirkan warna bunga atau souvenir. Yang kupikirkan hanyalah: Rencana baik ini berjalan dengan lancar. Bu Renata, dengan matanya yang selalu berbinar ketika bicara soal pesta, menatapku sambil menepuk pelan tanganku. “Tenang saja, sayang. Mama akan urus semuanya. Kamu hanya perlu tersenyum besok.” “Iya, Ma,” jawabku sambil menyandarkan kepala di lengannya. “Oh iya, Sayang— kamu sudah kasih tahu Nina?” tanya Bu Renata. Aku mengh

