Aku terbangun lebih dulu, membiarkan mataku menatap wajah Mas Mahen yang masih terlelap di sampingku. Nafasnya teratur, dadanya naik-turun pelan, sementara lengannya melingkari pinggangku erat—seperti anak kecil yang takut lepas dari pelukan ibunya. Rambutnya sedikit berantakan, membuatnya terlihat begitu manusiawi, jauh dari sosok tegas dan berwibawa yang biasa kulihat. Ada ketenangan di rautnya, seakan semua beban dunia lenyap saat dia tertidur di sisiku. Senyum tipis mengembang di bibirku. Jemariku terulur, membelai lembut pipinya yang hangat. "Kamu tahu, Mas," bisikku pelan, meski sadar dia tak akan mendengar. "Di pelukanmu, aku selalu merasa aman." Mahendra menggeliat pelan, menarikku lebih dekat tanpa membuka mata. Hati ini menghangat. Pagi ini, aku hanya ingin waktu berhenti seje

