“Mas, jangan nekat dong! Gimana kalau Mama nyariin kita? Terus kerjaan aku gimana?” “Justru itu tujuanku bawa kamu kabur ke Bali,” sahut Mahendra. “Biar keluarga Wirasatya sadar dan mulai cari kita. Soal pekerjaan kamu aman. Aku sudah bilang ke Pak Darmawan kalau kamu mulai fokus bantu pembangunan hotel Elara di Bali.” “Tapi, Mas—” “Sayang, cukup. Aku benar-benar kecewa sama keputusan Opa,” katanya dengan nada berat. “Selama ini aku selalu nurut. Aku ambil alih perusahaan setelah lulus kuliah tanpa banyak tanya. Padahal, yang seharusnya tanggung jawab itu Kak Bima, bukan aku.” “Mas, pernikahan kita cuma ditunda beberapa bulan. Bukankah—” “Cuma, kamu bilang?!” potong Mahendra cepat, suaranya meninggi. Aku masih berusaha menghentikan kenekatan Mahendra. Semua berawal dari perdebatan pa

