Tiba-tiba kabur 2

1216 Kata

Baiklah—aku benar-benar harus menahan diri untuk tidak tertawa melihat tingkah Mahendra. Sejak di mobil menuju bandara, wajahnya terus murung seperti anak kecil yang dilarang main. Bahkan saat kami sudah duduk tenang di kursi pesawat kelas ekonomi, ekspresinya masih sama: cemberut bercampur kesal. Mana aku tahu kalau dia bakal terjungkal saat menuruni anak tangga. Padahal cuma dua anak tangga, tapi entah kenapa dia bisa jatuh— lengkap dengan kopernya. Waktu itu stasiun sedang ramai. Orang-orang jelas melihat kejadiannya, tapi bukannya tertawa, mereka justru buru-buru menghampiri untuk membantu. “Mau kopi, Mbak?” tanya seorang pria berseragam kepadaku. “Terima kasih, tapi saya sudah minum tadi,” jawabku dengan sopan. Hah—dan satu hal lagi yang membuatku kurang nyaman: tempat duduk. Bu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN