Baiklah—aku benar-benar harus menahan diri untuk tidak tertawa melihat tingkah Mahendra. Sejak di mobil menuju bandara, wajahnya terus murung seperti anak kecil yang dilarang main. Bahkan saat kami sudah duduk tenang di kursi pesawat kelas ekonomi, ekspresinya masih sama: cemberut bercampur kesal. Mana aku tahu kalau dia bakal terjungkal saat menuruni anak tangga. Padahal cuma dua anak tangga, tapi entah kenapa dia bisa jatuh— lengkap dengan kopernya. Waktu itu stasiun sedang ramai. Orang-orang jelas melihat kejadiannya, tapi bukannya tertawa, mereka justru buru-buru menghampiri untuk membantu. “Mau kopi, Mbak?” tanya seorang pria berseragam kepadaku. “Terima kasih, tapi saya sudah minum tadi,” jawabku dengan sopan. Hah—dan satu hal lagi yang membuatku kurang nyaman: tempat duduk. Bu

