Malam Pertama Yang Membuat Candu
Musik berdentang kencang, membuat jantung pendengarnya juga ikut berdebar sesuai irama musik.
Lautan manusia memenuhi tempat yang memiliki lampu warna warni tapi temaram itu.
Seorang lelaki berambut hitam dan tebal, dengan tinggi seratus delapan puluh lima centimeter, mengenakan kaos polo dengan kerah berbentuk V, membuat otot dadanya sedikit mengintip keluar. Ryan Andika Heryawan Namanya.
Kepalanya bergoyang mengikuti irama musik. Tadinya ia dikelilingi oleh para sahabat bangsul, tapi sekarang ia ditinggal sendiri.
Tidak perlu protes karena memang seperti itulah biasanya. Ia dan teman-temannya akan menikmati musik juga alkohol lalu mulai berkeliaran untuk mencari teman untuk menghangatkan ranjang mereka.
Dan tentu saja, ia yang saat ini di tinggal sendiri akan segera menyusul.
Cukup lama tidak melakukan aktivitas yang menghasilkan banyak peluh di ranjang akibat harus mendampingi dan menemani Boss sekaligus sepupu yang sedang patah hati karena putus cinta.
Kenapa jadi asisten? Apa ia bukan orang kaya? Salah.
Dia sama kayanya dengan sepupu alias bossnya itu, hanya tinggal tunjuk saja mana perusahaan yang ingin ia pimpin, maka sang Papa akan segera menyerahkan padanya.
Apalagi karena Ryan adalah anak pertama dan satu-satunya lelaki di keluarga inti.
Hanya saja ia tidak mau hidup dengan semua kerepotan menjadi pimpinan perusahaan. Ia lebih suka dengan tanggung jawab yang lebih kecil.
Lebih suka suka menikmati uang untuk foya-foya, membiayai beberapa teman tidurnya yang ia anggap hebat dalam memberikan service di ranjang.
Gaji dan bonus yang diberikan sepupunya selalu lebih dari cukup untuk memenuhi kesenangannya itu.
"Hai," sapa seseorang disisinya.
"Hai. Apa kabar?"
Wanita yang menyapa Ryan tadi langsung mengecup pipinya. "Udah lama gak keliatan. Kangen tauk."
Ryan tersenyum miring. "Kita udah lewat, Sayang. Jangan lupa kita udah selesai bulan lalu."
"Ck. Tapi aku masih sayang sama kamu."
"Sorry, tapi aku nggak."
Ryan berdiri, menyingkirkan tangan wanita yang tadi telah mengalung di lehernya. Pergi tanpa peduli bila wanita tadi sedang memakinya.
Seorang wanita sudah dari tadi menarik perhatian Ryan dari lantai dansa. Wanita yang mengenakan dress berwarna merah terang itu terlihat sangat mencolok dibandingkan wanita lain.
Tubuh wanita itu pun terlihat sangat seksi, apalagi di bagian bawahnya. ‘Bulat dan padat, pasti empuk tuh,’ pikirnya.
Tak ingin kehilangan mangsa, Ryan pun langsung beraksi. Langsung mengambil tempat di belakang wanita yang masih asyik meliukkan badan. Bahkan sampai beberapa kali menyentuh bagian depan Ryan.
“Sendiri?” tanyanya dengan mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu.
Wanita itu menjawab dengan anggukan kepala tapi tidak juga berbalik, membuat Ryan makin penasaran. Ia sangat menyukai tipe yang jinak-jinak merpati seperti wanita di depannya, membuatnya merasa tertantang.
“Gue temenin mau gak?” tanya Ryan lagi. Lalu dengan pelan ia meraih bahu wanita itu untuk menghadap kepadanya.
Mata Ryan memicing, seakan ingin memastikan penglihatannya yang bisa saja salah. Ia mengenali wanita itu.
“Annie! Ngapain lo di sini?” seru Ryan tidak percaya.
Sama sekali tidak menyangka bila sahabat dari pacar sepupunya itu ada di sini. Padahal baru saja mereka bertemu tadi sore.
“Siapa lo?” bukannya menjawab pertanyaan Ryan, Annie malah bertanya balik dengan tubuh yang sempoyongan.
“Lo mabok ya?” tanya Ryan padahal harusnya itu tidak perlu ia tanyakan lagi karena melihat gerakan Annie dan juga aroma alkohol yang menguar kuat dari mulut wanita itu sudah cukup menjelaskan.
“Mabok? Hahaha gue gak mabok. Minum dua atau tiga botol wine gak akan bikin gue mabok. Gue kuat tauk,” ujar Annie menantang.
Merasa kesal, Annie pun pergi. Tapi Ryan tidak bisa melepaskannya begitu saja. Setidaknya ia harus mengantar sahabat pacar sepupunya itu pulang.
Sebab dengan keadaan Annie yang sudah setengah sadar itu, bisa saja ia bertemu dengan lelaki yang kurang ajar yang berniat meniduri wanita mabuk, yah seperti dirinya sendiri.
Annie berjalan ke meja bar yang memanjang tepat di depan bartender yang sedang meracik alkohol. Meneguk segelas wine yang barusan ia pesan seperti meminum air putih.
“Ahhh, pahit tapi ada manis-manisnya gitu,” racau Annie.
“Yuk, gue antar lo pulang,” ajak Ryan.
“Apa sih? Ganggu kesenangan orang aja!” tolak Annie dan menepis tangan Ryan dengan kasar.
“Eh! Gue udah coba berbaik hati sama lo, ya,” ujar Ryan tidak terima.
“Kenapa? Gak suka? Mau gue kasih sesuatu yang menyenangkan gak? Ayo tidur bareng gue malam ini,” sahut Annie dengan tersenyum lebar.
Ryan mengerutkan kening, tidak percaya dengan keberanian wanita yang baru berusia dua puluh tahun itu.
“Kenapa? Lo gak berani? Atau lo gak perkasa di ranjang, gitu?” Bukannya berhenti Annie malah semakin memprovokasi.
“Lo jangan mancing gue. Kalau sudah mulai, gue gak akan pernah berhenti sampai selesai,” geram Ryan mulai terpancing.
Annie terkekeh, “Ayo kita buktikan kalau lo sama aja dengan laki-laki b******k lainnya yang selalu nganggap gue sebagai barang bekas.”
Baru saja Ryan akan bertanya tapi tidak sempat karena Annie sudah keburu mendaratkan bibirnya yang malam ini dipoles dengan lipstick merah yang bersaing terangnya dengan gaun yang membungkus tubuhnya, ke bibir Ryan.
Annie mengalungkan tangannya ke leher Ryan, memagut dan menggigit kecil bibir bawah Ryan yang tebal itu. Meski awalnya ingin menolak, tapi sebagai laki-laki normal Ryan tidak lagi bisa menolak.
Tangan Ryan melingkari pinggang Annie, sesekali meremas karena gemas. Bersaing dengan bibirnya yang membelit bibir Annie.
Bercumbu di tengah keramaian tanpa rasa malu, karena bukan hanya mereka yang bertindak seperti itu.
Hampir kehabisan oksigen, barulah keduanya melepaskan bibir.
“Kamar atas?” bisik Ryan yang sudah mulai tak bisa menahan hasratnya.
“Siapa takut?” sahut Annie makin menantang.
Ryan pun dengan cepat menarik tangan Annie menuju pintu klub dan memasuki lift yang akan mengantarkan mereka ke kamar di lantai atas. Kebetulan klub ini berada di lantai dasar sebuah hotel.
Di dalam lift kembali Ryan dan Annie saling menyatukan bibir, seakan tidak ingin membuang waktu sedikit pun bahkan untuk menunggu kotak besi itu membawa mereka ke kamar yang sudah dipesan Ryan sebelumnya.
Sepanjang lorong yang sepi itu pun Ryan tetap menyantap bibir Annie dengan lahap. Menggendong Annie seperti koala. Membuka pintu kamar tanpa ingin sedetik pun menjeda ciuman mereka.
Annie baru turun dari gendongan Ryan ketika mereka telah sampai di dalam kamar. Dengan kuat Annie mendorong tubuh besar Ryan hingga lelaki itu rebah di atas ranjang.
Bergerak sensual, Annie menggapai resleting dress di punggungnya dan menurunkan benda itu hingga tergeletak mengenaskan di ujung kakinya yang masih terbalut heels.
Annie menggigit bibir bawahnya.“Apalagi yang kamu tunggu? Rasakan semua sisi tubuhku! Seluruhnya.”