“Memangnya kamu mau?” tanyanya seperti sengaja membuat Rhea jengkel. “Nggak! Aku mana doyan cilok!” serunya, tapi langsung mangap begitu disuapi oleh Juna. “Enak …” ucap Rhea sambil ngunyah. Juna tertawa menoyor jidat Rhea yang dari mencak-mencak, seketika kicep cuma dengan sesuap cilok. “Jangan dihabiskan!” Rhea menarik tangan Juna yang mau memakan suapan terakhir ciloknya, lalu menyambar dengan mulutnya. Bibir Juna mencebik. Gedek dengan Rhea yang jadi wanita sama sekali tidak ada lembutnya. Sekarang sudah jadi wakil direktur rumah sakit, tetap saja masih pecicilan nggak bisa feminim blas. “Kebiasaan kalau makan belepotan!” Juna mengusap bibir Rhea yang kena saus. Jantung mereka nyaris mencelat keluar oleh suara klakson yang tiba-tiba berbunyi keras. Keduanya celingukan mencari mo

