Kedua orang tua mereka sudah pulang, Juna duduk dengan jemari Dinda di dalam genggamannya. "Maafkan Dinda ya, Bang. Harusnya, sedikit demi sedikit Dinda mesti mulai berubah. Dinda tidak boleh terlalu manja, dan terlalu semaunya. Sebentar lagi, Dinda menjadi Mommy." "Abang juga minta maaf, ya Sayang. Abang selalu lupa untuk lebih sabar lagi dalam menghadapi Dinda." "Kita sama-sama salah ya, Bang." "Hmm, kita harus sama-sama memperbaiki diri. Kalau Abang lupa, dan bersikap sedikit kasar, tolong Dinda ingatkan Abang. Jangan pergi meninggalkan Abang dengan rasa marah. Maukan, untuk sabar juga mengingatkan Abang?" "Dinda sayang Abang. Mau dipeluk, Bang." Juna naik ke atas ranjang, ia berbaring di samping istrinya. Dibawa tubuh Dinda ke dalam pelukannya. "Cium, Bang. Kalau malam, kita ti