“Dok, apa tidak bisa istirahat sebentar?” Lex dengan bahasa formalnya, sudah berusaha menahan diri sedari tadi. Melihat sang istri yang mengejan dengan susah payah, membuatnya harus mengatur napas berkali-kali guna menenangkan diri. Pantas saja Pras kala itu tidak mengizinkan Sinar memiliki anak lagi, ternyata suasana di ruang persalinan sangatlah horor. Melebihi ketika Lex berada di ruang persidangan. Elok mencengkram tangan Lex. Meringis kesal, karena ucapan absurd tersebut. “Ini bukan di ruang sidang, Mas ... nggak ada istirahat, sampai anakmu kelu— erghh …” Saat rasa itu kembali hadir, dokter pun sudah sigap seperti yang sudah-sudah. Elok menarik napas panjang sesuai instruksi, kemudian berusaha kembali mengejan sekuat tenaga. Namun, untuk percobaan yang sudah kesekian kalinya, pu

