“Ini rumah siapa, Om?” Kedua tangan Duta menempel di kaca jendela mobil, menatap luas halaman yang bisa dipastikan lebih lebar dari rumahnya. Taman yang ada di sana terlihat sangat rapi, dan terawat dengan beberapa tanaman hias yang berjejer indah. “Kok, nggak pulang?” “Rumah opa Adi.” Nasib Gilang saat ini, ada di tangan Duta. Untuk mempercepat rencananya, Gilang akhirnya memutuskan untuk mencari jalan lain. Yakni, membawa Duta ke kediaman Mahardika dan membuat bocah itu nyaman berada di rumahnya. “Waaah … kita mau jenguk adek Rezky?” Duta lantas berbalik dan menatap Gilang. “Ada Kasih juga?” “Rezky ada di rumahnya sendiri.” Melihat wajah tembem dan polos yang antusias itu, membuat Gilang ingin tertawa. “Kalau Kasih, jam segini masih ngeles. Dia sore baru pulang ke rumah.” “Ooo …” Dut

