“Menikah?” Setelah satu kata itu terucap, Raissa lantas bengong menatap putrinya. Sependek ingatan Raissa, Kiya tidak pernah mengatakan sedang menjalin hubungan dengan pria mana pun. Apalagi dengan Gilang, adik dari wanita yang sudah menjadi bos Kiya selama ini. Raissa bergeser sedikit, lalu melihat Gilang. Ternyata, adik laki-laki Elok itu sangat tampan. Namun, entah mengapa di mata Raissa, pria itu tampak seperti playboy kawakan. Raissa segera menggeleng samar, menyingkirkan pemikiran yang sempat singgah di kepala. Bagaimanapun juga, ia tidak boleh menilai seseorang dari penampilannya saja. “Bu-bunda, begini.” Kiya terpaksa menggantung kalimatnya, karena melihat Duta masuk ke ruang tamu yang menjadi satu dengan ruang tengah. Putranya sudah tampak segar, dengan rambut basah dan memakai

