bc

Kau Rebut Suamiku, Kunikahi Ayahmu

book_age18+
141
IKUTI
2.2K
BACA
billionaire
love-triangle
contract marriage
family
HE
age gap
arranged marriage
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
city
office/work place
secrets
assistant
like
intro-logo
Uraian

Delapan bulan menikah tanpa disentuh.Delapan bulan menjadi istri, tapi tak diakui.Andini Taleetha Rasyid menikah bukan karena cinta, melainkan kewajiban. Dijodohkan dengan Brian Sadewa, pewaris tunggal keluarga konglomerat, Andini berharap keterpaksaan ini berubah menjadi cinta seiring berjalannya waktu. Nyatanya, yang ia dapat justru sikap dingin, diabaikan, dan penghinaan dari keluarga suaminya.Saat Andini dituduh mandul dan gagal menjadi istri, kebenaran pahit terungkap, Brian memilih perempuan lain. Lebih menyakitkan lagi, perempuan itu sedang mengandung anaknya.Di tengah pernikahan yang runtuh dan harga diri yang diinjak-injak, Andini menemukan tempat berlindung di dunia kerja. Arjuna Bimantara, atasan yang dewasa dan tenang, perlahan menyembuhkan luka yang disembunyikan Andini rapat-rapat. Namun, kedekatan mereka justru membuka rahasia masa lalu Arjuna.Saat Andini memutuskan untuk melepaskan pernikahan yang menyakitkan ini, ia tak menyadari bahwa keputusannya akan mengguncang lebih banyak kehidupan. Pengkhianatan, penyesalan, dan kehilangan saling berbenturan, memaksa setiap orang menghadapi konsekuensi dari pilihan mereka sendiri.Ketika cinta datang setelah kehancuran,apa Andini percaya lagi akan pernikahan? Atau justru terbelenggu dalam luka masa lalu selamanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Ketegangan Di Pagi Hari
"Bagus ya, jam segini baru bangun! Enak banget hidup kamu di sini!" Andini yang baru menuruni anak tangga langsung berhenti dan menoleh. Menatap wanita tua yang baru saja melontarkan kalimat pedas. "Maaf, Oma. Ini-" "Pagi-pagi jangan bikin suasana nggak enak, Ma. Ini belum jam tujuh pagi, emangnya Andini harus keluar kamar jam berapa?" potong seorang pria paruh baya. Dia, Hamdan Sadewa. Mertua Andini Thaleeta Rasyid, dan perempuan tua itu, ibu kandung Hamdan, Rahayu. "Maksud Mama, Andini harus udah di dapur pagi buta?" sambung suara lembut tapi tegas. Seorang wanita dengan gaun satin premium melangkah anggun dari arah dapur. Dia Sarah, istri Hamdan. Di tangannya ada segelas air lemon hangat yang langsung ia berikan kepada Andini dengan senyuman tipis. "Minum dulu, Sayang. Wajah kamu pucat, pasti kurang tidur lagi semalam," ucap Sarah, suaranya sengaja dikeraskan agar Rahayu dengar. Rahayu mendengus, melipat tangannya di d**a. "Kamu itu terlalu manjain menantu, Sarah! Di zaman Mama dulu, sebelum matahari terbit, menantu udah harus cuci baju, beres-beres, sama masak buat satu keluarga. Ini? Jam tujuh baru turun tangga, udah kayak nyonya besar!" Sarah menghela napas, lalu menatap ibu mertuanya tanpa rasa takut. "Ma, ini zaman moderen, bukan zaman Siti Nurbaya. Andini itu kerja, dia manajer di perusahaan besar. Semalam dia baru pulang jam sebelas karena ada deadline. Lagian, di rumah ini ada lima asisten rumah tangga. Buat apa Andini disuruh masak pagi-pagi kalau ujung-ujungnya cuma buat menunjang ego Mama?" "Kamu berani jawab Mama, Sarah?!" wajah Rahayu memerah. "Sarah nggak bermaksud kurang ajar, Ma. Sarah cuma meluruskan!" Hamdan menimpali sambil menyesap kopinya, mendukung sang istri. "Andini sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Dia nggak pernah mengeluh meski Brian sering pulang pagi dalam keadaan kacau. Harusnya Mama bersyukur punya menantu sesabar Andini." Andini menunduk, meremas gelas di tangannya. Pembelaan dari kedua mertuanya memang menenangkan, tapi di saat yang sama, itu jadi pengingat pahit bahwa suaminya sendiri tidak ada di sana untuk membelanya. "Bersyukur?" Rahayu tertawa sinis. "Maksudnya Mama harus bersyukur punya menantu yang nggak berguna kayak dia? Udah berapa bulan dia menikah sama Brian, tapi belum ada tanda-tanda dia hamil. Itu yang kalian bilang harus bersyukur?" Deg. Hinaan Rahayu selalu membuat Andini tidak berkutik. Sarah yang melihat perubahan raut wajah Andini langsung merangkul bahu menantunya itu, memberikan kekuatan yang Andini rasa sudah hampir habis. Praang! Di sela ketegangan, suara guci keramik pecah terdengar nyaring di ruang tamu rumah mewah itu. Tak lama setelah itu, muncul seorang pria muda dengan langkah sempoyongan, baju dan rambut berantakan, bahkan aroma alkohol begitu kuat menyeruak indera penciuman. Andini meletakkan gelas yang ia pegang di atas meja, lalu cepat-cepat menghampiri pria itu. Dia, Brian Sadewa. Suami yang usianya 6 tahun lebih muda darinya. Mereka menikah karena perjodohan yang direncanakan Sarah dan Rania, bundanya Andini. "Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Andini pelan. "Minggir! Nggak usah sok peduli!" Brian langsung mendorong Andini. Andini hampir terjatuh jika ia tidak langsung berpegangan pada pinggiran sofa. Dorongan Brian kasar, jelas tidak menghargai keberadaannya dan yang lebih menyakitkan, tawa sinis Rahayu dari belakang. "Lihat itu? Suami baru pulang bukannya disambut hangat, malah ditanya-tanya kayak maling. Pantes aja Brian males di rumah," sindir Rahayu tanpa dosa. "Cukup, Ma!" Hamdan berdiri dengan wajah memerah. "Suami kayak dia nggak pantas dapat sambutan hangat dari istri!" Tatapan Hamdan semakin tajam, ia berjalan cepat menghampiri putranya. "Kamu juga, Brian! Sampai kapan kamu kelayapan nggak jelas kayak gini? Pulang pagi, mabuk-mabukan. Coba kamu bersikap lebih dewasa, perlakukan istri kamu dengan baik!" Brian hanya tertawa meremehkan, matanya yang merah menatap sang ayah tak kalah tajam. "Istri? Istri pilihan Papa sama Mama, kan? Bukan pilihan aku. Jadi jangan paksa aku buat bersikap manis sama dia!" Sarah langsung mendekap bahu Andini yang gemetar. "Din, kamu nggak apa-apa?" Andini hanya menggeleng pelan, matanya tetap tertuju pada Brian yang mulai melangkah limbung menuju tangga. Bau alkohol yang menyeruak benar-benar membuatnya mual. "Aku anter kamu ke kamar, Mas," ucap Andini, masih mencoba menjalankan kewajibannya sebagai istri walau hatinya sakit. "Nggak usah! Gue bisa sendiri!" bentak Brian sambil menepis tangan Andini yang hendak membantunya. "Mending lo urusin aja tuh Oma sama orang tua gue. Kan lo pinter banget ambil hati mereka biar gue kelihatan jahat terus di mata meraka!" Brian menaiki tangga satu per satu dengan berpegangan pada railing, meninggalkan suasana ruang makan yang mendadak mencekam. Hamdan tampak memijat pangkal hidungnya, kecewa berat melihat sikap putra tunggalnya. Sementara itu, Rahayu justru melenggang pergi menuju meja makannya kembali. "Kalau dari awal Brian nggak suka, ya jangan dipaksa. Sekarang kalian lihat sendiri kan hasilnya? Rumah ini malah kayak ring tinju tiap hari." Andini menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia menoleh ke arah Sarah dan Hamdan. "Ma, Pa, Andini minta maaf selalu bikin suasana pagi di rumah ini jadi kacau. Andini izin ke atas sebentar lihat keadaan Mas Brian." Sarah hanya bisa menatap menantunya dengan tatapan iba yang dalam. "Sabar ya, Sayang. Mama minta maaf atas sikap Brian." Andini hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan, lalu ia melangkah menaiki tangga. "Sampai kapan kayak gini, Pa? Andini udah berusaha jadi istri dan menantu yang baik, tapi sikap Brian ...." Sarah menghela napasnya panjang, tak mampu melanjutkan ucapannya lagi. Bahkan air mata yang menggenang di pelupuk matanya hampir jatuh. "Kita kasih kesempatan Brian sebentar lagi, kalau dia masih nggak berubah juga, biar Papa yang kasih dia pelajaran." *** Saat membuka pintu kamar, Andini melihat Brian terlentang di ranjang, bahkan belum melepas sepatunya. Andini melangkah perlahan lalu membuka sepatu Brian. "Mandi dulu, biar lebih segar, Mas. Nanti aku buatin teh biar pengarnya hilang," ucap Andini pelan. "Pergi, gue mau tidur. Nggak usah ganggu!" Andini tak peduli, ia tetap mendekat untuk membantu melepas jaket Brian. Namun, tangan Brian langsung mencengkram erat pergelangan tangan Andini hingga wanita itu meringis kesakitan. "Jangan coba-coba godain gue. Lo pikir gue bakalan nafsu tidur sama perempuan tua kayak lo? Dalam mimpi pun gue nggak sudi!" JLEB! Hinaan Brian bagai sembilu yang menancap tepat di hati Andini. Begitu pedih dan menyakitkan. Andini berusia 28 tahun, sedangkan Brian 22 tahun, bahkan pria itu belum menyelesaikan kuliahnya. Perbedaan usia ini yang selalu Brian jadikan alasan untuk menyakitinya. Andini menarik napas panjang, menatap tangan Brian yang masih mencengkeram pergelangan tangannya sampai memerah. Bukannya ketakutan, tatapan mata Andini justru berubah menjadi sangat dingin dan datar. Perlahan, ia melepaskan tangan Brian dengan satu sentakan yang cukup kuat. "Laki-laki yang punya nafsu itu biasanya punya selera, Mas. Tapi laki-laki yang punya harga diri, tahu cara menghormati istrinya," ucap Andini dengan suara yang sangat tenang, tapi menusuk. Andini berdiri tegak, merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat dorongan Brian tadi. Ia menatap suaminya yang masih terkapar dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Jika otakmu masih berfungsi dengan baik, aku tidak setua yang kamu bayangkan. Umurku 28 tahun, aku punya karier, dan mandiri. Sedangkan kamu? 22 tahun, belum lulus kuliah, dan masih hidup dari ketiak orang tua. Jadi, sebelum kamu menghina fisik dan usiaku, coba bercermin dulu. Apa ada bagian dari diri kamu yang pantas dibanggakan selain nama besar Sadewa?" Brian tertegun, sejenak rasa kantuk dan mabuknya kalah oleh rasa kaget karena Andini berani menjawab. Namun, kediaman itu hanya bertahan beberapa saat, Brian langsung bangun dan berdiri di hadapan Andini. Tatapannya semakin tajam. "Jadi maksud lo, gue nggak punya otak?!" raung Brian. "Menurutmu?" Andini melipat tangannya di d**a, tak kalah menantang. "Cih! Dasar munafik!" Brian mencibir, senyuman sinis tersungging di bibirnya. "Kenapa lo nggak berontak kayak gini di depan orang tua gue? Lo pura-pura polos di depan mereka biar mereka semakin benci gue dan lo semakin jadi kesayangan mereka. Itu kan yang lo mau?" "Dengarkan saya, Tuan Brian yang terhormat!" Andini menunjuk d**a Brian. Wajah Brian semakin memerah menahan amarah. "Saya tidak munafik, saya diam karena saya menghormati orang tua Anda. Saya bertahan dalam pernikahan ini bukan untuk mengambil posisi Anda, tapi menjaga kepercayaan bunda saya dan orang tua Anda!" Andini mundur satu langkah, kembali menatap Brian dari atas sampai bawah. "Jika Anda merasa saya merebut kasih sayang orang tua Anda, itu bukan salah saya. Tapi itu bukti bahwa Anda tidak mampu mempertahankan kasih sayang mereka!" Brian bungkam, ia kehabisan kata-kata untuk membalas. Tangannya terkepal semakin erat. Tanpa menunggu balasan dari Brian, Andini membalikkan badan. Ia mengambil tas kerjanya, memoles lipstik merah di bibirnya untuk menutupi wajah pucatnya, lalu keluar kamar dengan langkah yang mantap. BRAAK! Suara pintu tertutup menarik Brian kembali ke alam sadarnya. "Andini, sialan! Gue pastikan lo nggak akan bertahan lama lagi di rumah jni!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
750.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
983.4K
bc

A Warrior's Second Chance

read
362.1K
bc

Not just, the Beta

read
349.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook