Bab 1 ✅️
Rumah itu berdiri megah di kawasan elite kota. Dinding marmernya berkilau, lampu kristalnya memancarkan cahaya hangat, tetapi tak satu pun mampu mengusir dingin yang menguasai setiap sudutnya.
Di meja makan yang panjang, dua piring tersaji rapi dengan jarak yang seolah sengaja dibiarkan menganga.
Arjuna membaca koran pagi tanpa benar-benar memperhatikan isinya. Sesekali ia menyesap kopi yang mulai kehilangan hangatnya.
Di seberangnya, Alesha sibuk menatap layar ponsel sambil menyeruput kopi hitam, tak ada sapaan dan senyum, yang terdengar hanya denting sendok yang sesekali menyentuh cangkir.
Dua tahun terakhir, keheningan bukan lagi sesuatu yang canggung. Ia telah menjadi penghuni tetap di rumah itu.
"Aku ada operasi lebih awal pagi ini," ujar Arjuna tanpa mengangkat kepala. "Kemungkinan pulang malam."
Alesha mengangguk kecil. "Jadwalku juga padat. Mungkin aku juga pulang larut."
"Hm."
Tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Arjuna melipat korannya, lalu berdiri sambil merapikan jas dan dasinya.
"Aku berangkat."
Baru beberapa langkah menuju pintu, suara Alesha menghentikannya.
"Jun," panggil Alesha.
Pria itu berhenti, tetapi tidak menoleh. "Ada apa?"
"Map biru pasien operasi hari ini," ucap Alesha pelan. "Jangan sampai tertinggal lagi."
Hening beberapa detik.
"Aku ingat."
"Aku cuma mengingatkan," ujar Alesha.
"Aku tahu pekerjaanku."
Jawaban itu terdengar datar, tanpa nada marah, tetapi cukup tajam untuk membuat Alesha mengembuskan napas pelan.
"Baik."
Arjuna membuka pintu. "Aku pergi."
Pintu lalu tertutup, suara itu menggema di ruang makan yang kembali sunyi.
Pandangan Alesha jatuh pada cangkir kopinya yang telah kosong. Dulu, mereka selalu berebut menu sarapan.
Kini, bahkan mengingatkan membawa map pun terasa seperti percakapan terpanjang yang mereka miliki.
Tujuh tahun menikah, dua tahun menjadi orang asing.
***
Satu jam kemudian, area parkir Rumah Sakit Harapan Medika mulai dipenuhi kendaraan para dokter, mobil Arjuna berhenti di sisi timur, sementara mobil Alesha berhenti di sisi barat.
Mereka turun hampir bersamaan. Namun, tak ada yang menunggu, tak ada yang berjalan berdampingan.
Seolah mereka memang datang dari dua kehidupan yang berbeda.
Di rumah sakit, keduanya dikenal sebagai dokter spesialis terbaik.
Dr. Arjuna Putra Januar, Sp.B.
Seorang ahli bedah yang perfeksionis.
Sementara Dr. Alesha Prajan, Sp.JP, adalah spesialis jantung yang tenang, cermat, dan hampir tak pernah membuat keputusan gegabah.
Tak seorang pun menyangka bahwa pasangan dokter yang begitu dihormati itu sebenarnya hidup dalam pernikahan yang nyaris mati.
Di koridor ruang operasi terlihat Alesha dan Arjuna.
"Ada hasil pemeriksaan terbaru pasien ruang 402?" tanya Arjuna.
Alesha menyerahkan tablet berisi data medis.
Arjuna menerimanya sekilas. "Aku sudah melihat hasilnya."
"Bagaimana menurutmu?"
"Operasi harus dilakukan sekarang."
Alesha menggeleng tipis. "Fraksi ejeksi jantungnya rendah. Kalau langsung masuk meja operasi, risikonya besar."
Arjuna menatap grafik monitor beberapa saat. "Aku sudah menghitung semua kemungkinannya."
"Belum semuanya."
"Apa maksudmu?"
Alesha menyilangkan tangan. "Jantung pasien jauh lebih lemah dibanding data awal. Kalau kamu memaksakan operasi sekarang, komplikasinya bisa meningkat."
Arjuna mengembalikan tablet itu. "Kalau kita menunggu terlalu lama, pendarahan internalnya justru lebih berbahaya."
"Itu benar."
"Lalu?" tanya Arjuna.
"Tapi, jangan hanya melihat sisi bedahnya." Nada bicara Alesha tetap tenang.
"Pasien ini butuh penanganan bersama." Arjuna menghela napas.
"Aku tidak sedang mempertaruhkan nyawa pasien demi ego."
"Lalu buktikan."
Tatapan mereka saling bertemu.
Beberapa dokter residen yang melintas memilih mempercepat langkah. Mereka sudah terlalu sering menyaksikan perdebatan dua dokter spesialis terbaik rumah sakit itu.
Seorang perawat datang tergesah-gesah. "Dok, apakah tindakan operasinya jadi dilaksanakan?"
Arjuna mengalihkan pandangan. "Kami sedang menentukan keputusan terbaik."
Perawat itu langsung mengangguk dan memilih mundur.
Alesha kembali membuka data pasien. "Aku ingin pemeriksaan enzim jantung diulang."
"Itu akan menghabiskan waktu."
"Lebih baik kehilangan tiga puluh menit daripada kehilangan pasien."
Arjuna terdiam lalu ia mengangguk tipis. "Baik."
Alesha sedikit terkejut. "Kalau hasilnya tetap stabil, operasi langsung dilakukan."
"Aku setuju."
Perdebatan itu akhirnya berhenti. Namun bukan karena salah satu mengalah. Melainkan karena keduanya sama-sama mengutamakan pasien.
Arjuna hendak pergi ketika suara Alesha kembali memanggil.
"Jun."
Pria itu menoleh kali ini. "Apa?"
"Jangan terlalu memaksakan diri. Operasi ini bisa berlangsung berjam-jam."
"Aku tahu," angguk Arjuna.
"Aku hanya ingin semuanya berjalan lancar."
Alesha menghentikan kalimatnya sendiri. Tatapan Arjuna sedikit melunak sebelum kembali datar.
"Aku akan baik-baik saja." Arjuna berbalik dan melangkah menuju ruang persiapan operasi.
Alesha memandangi punggung suaminya hingga menghilang di balik pintu.
"Dokter Alesha."
Seorang dokter muda menghampirinya. "Maaf kalau lancang ... Dokter tidak apa-apa?"
Alesha tersenyum tipis. "Kenapa bertanya begitu?"
"Suasananya tadi agak tegang. Itu hanya diskusi medis."
Dokter muda itu terkekeh canggung. "Saya kira Dokter Arjuna memang selalu seserius itu."
"Beliau memang seperti itu."
"Walaupun begitu, beliau dokter bedah terbaik yang pernah saya lihat."
Alesha mengangguk pelan. "Memang."
Ada rasa bangga yang masih tersisa, meski nyaris tenggelam oleh luka.
"Oh iya, Dok," lanjut dokter muda itu. "Malam ini kami mengadakan makan malam kecil untuk merayakan keberhasilan operasi minggu lalu. Dokter ikut, kan?"
Alesha terdiam, yang terlintas di benaknya justru rumah besar yang sunyi, rumah yang tak lagi terasa seperti rumah.
"Nanti saya lihat dulu," jawab Alesha.
"Baik, Dok."
Dokter muda itu pun pamit.
Alesha berjalan menyusuri koridor seorang diri. Tanpa sadar jemarinya menyentuh cincin di jari manis yang masih melingkar dan masih utuh, namun maknanya telah lama retak.
Bayangan dua janin kecil yang tak pernah sempat ia peluk kembali memenuhi pikirannya.
Dua tahun telah berlalu, namun rasa kehilangan itu masih terasa sama.
Setiap kali menatap Arjuna, yang muncul bukan lagi kenangan indah, melainkan ruang operasi, alarm monitor dan tangisan yang tak pernah benar-benar berhenti.
"Mungkin, ada luka yang memang tidak ditakdirkan sembuh," gumamnya lirih.
Di ujung koridor lain, tanpa Alesha sadari, Arjuna berdiri mematung, tatapannya mengikuti langkah istrinya yang semakin menjauh, tangannya mengepal di dalam saku jas.
Ada begitu banyak kata yang ingin ia ucapkan, kata maaf, bertanya apa kabar atau sekadar, aku merindukanmu. Namun tak satu pun berhasil melewati tenggorokannya, yang tersisa hanya bisikan pelan yang bahkan nyaris tak terdengar oleh dirinya sendiri.
"Kita masih suami istri, tapi sudah terlalu lama hidup sebagai dua orang asing."
Arjuna menarik napas panjang, lalu membalikkan badan, ia kembali menuju ruang operasi.
Sebab menghadapi pisau bedah selalu terasa jauh lebih mudah daripada menghadapi perempuan yang masih dicintainya.