Rian berjalan cepat melintasi koridor panjang menuju sayap timur mansion. Napasnya sedikit memburu—bukan karena lelah, tetapi karena kegelisahan yang belum tuntas setelah percakapannya dengan Mama Linda. Pintu ruang kerja Bram terbuka setengah, dan Rian mengetuk pelan sebelum masuk. Bram sedang berdiri di depan jendela besar, kedua tangannya bersedekap, bahu tegang. Begitu mendengar pintu terbuka, ia menoleh. “Kamu lama sekali datangnya,” ucap Bram tanpa basa-basi. “Ada yang manggil tadi.” Rian mengatur napasnya. “Mama kamu.” Bram mengangguk singkat, tetapi tidak bertanya lebih jauh. Ia justru langsung berkata, “Aku butuh kamu kerjakan sesuatu.” “Ya.” “Aku butuh daftar kampus di Jakarta yang menerima mahasiswa pindahan. Cari yang paling dekat dari mansion dan punya program kelas jara

