Suasana pagi menjelang siang di mansion Bram masih temaram ketika Rian memasuki halaman depan. Udara sejuk, sedikit berembus, membawa wangi embun dari taman yang baru disiram otomatis. Mobil Rian berhenti tepat di depan pintu utama. Ia tidak menyangka bahwa hari ini—hari yang menurut jadwalnya hanya akan berisi laporan keuangan dan revisi presentasi untuk investor—akan dimulai dengan tatapan tajam seorang ibu. Begitu Rian menjejakkan kaki di lobi depan, Mama Linda sudah berdiri di sana. Tidak tersenyum. Tidak menyapa lembut seperti biasanya. Hanya memandang. Dalam. Lurus. Seolah melihat isi kepalanya. Rian refleks menelan ludah. “Rian,” panggil Mama Linda pelan, tapi tegas. “Dari tadi saya menunggu.” Rian langsung menunduk hormat. “Pagi, Tante … eh—Bu Linda. Ada yang bisa saya—” “S

