Alea mengangkat baby Alan yang masih menggeliat manja di pundaknya. Tubuh mungil itu hangat, napasnya teratur, dan aroma sabun bayi yang masih menempel membuat d**a Alea terasa menghangat sekaligus perih. Ia baru saja menenangkan Alan setelah sarapan yang penuh ketegangan itu—kata-kata Eka masih mengiris tipis di benaknya, seperti duri halus yang tidak terlihat tapi terasa. Ia merebahkan baby Alan perlahan di atas ranjang besar, bukan di boksnya. Alan tampak lebih nyaman di atas ranjang yang empuk itu; tangannya terangkat, bibir mungilnya membentuk senyum refleks. Alea duduk di tepi ranjang sambil menjaga tepiannya agar Alan tidak jatuh. Tatapannya kemudian mengarah ke jendela kamar yang besar, di mana sinar matahari sore menembus tirai transparan, membentuk garis-garis cahaya di lantai

