Beberapa saat, ruang makan itu lengang sejenak ketika Alea duduk, memangku baby Alan yang sedang mengemut jari dan menatap berkeliling dengan mata bulat bening. Bram duduk di posisi ujung meja, Mama Linda di sisi kanan, sementara Eka sengaja mengambil posisi di sisi kiri Bram—terlalu dekat, terlalu mencolok. Alea berusaha fokus pada sup hangat yang baru ia suap ke mulutnya. Bayi itu tersenyum gembira, membuat pipi Alea melembut seketika. Ada cahaya tipis di matanya—cahaya yang hampir mirip dengan kebahagiaan, sebelum luka lama dari pertanyaan-pertanyaan Eka menghambur lagi dalam benaknya. “Mas Bram mau tambah roti?” suara Eka lembut, dibuat-buat manis, sambil mengambil piring roti dan hampir menaruhnya ke piring Bram. Bram menggeleng singkat. “Nggak. Sudah cukup.” Eka tersenyum, pura-p

