Eka menuruni tangga dengan langkah cepat, tumit sendalnya beradu dengan lantai marmer, memantulkan bunyi yang selaras dengan dentuman kesal di dadanya. Wajahnya memerah, dagunya terangkat sombong. Tadi ia diusir dari kamar oleh Bram. Diusir. Seperti pelayan. Ia mengepalkan tangan. "Mas Bram pasti cuma lagi emosi," gumamnya, lebih untuk menenangkan diri. "Nanti juga butuh aku, lagian Mbak Rere juga nggak ada." Ia melewati lorong menuju dapur, mengatur napas, lalu masuk dengan senyum dibuat-buat. “Pagi,” sapanya manis. “Tolong siapkan sarapan pagi buat Mas Bram ya, sekalian buat aku. Masak makanan yang enak.” Umi dan Bik Tini langsung menghentikan aktivitas memotong sayur dan mengaduk kuah sop. Umi bergumam, setengah berbisik—tapi cukup keras untuk terdengar, “Gayanya udah kayak nyony

