Mama Linda berdiri terpaku beberapa detik setelah mendengar kalimat Alea dari balik pintu. Jantungnya berdebar kacau, wajahnya memucat, tangan yang tadi memegang gagang pintu kini gemetar halus. Ia tak mampu menahan rasa sesak yang menindih dadanya. Dengan langkah perlahan—nyaris limbung—ia menjauh dari kamar bayi itu. Setiap langkah terasa berat, seperti ada beban besar yang baru saja jatuh ke pundaknya. Ia berjalan menyusuri lorong, menuruni anak tangga perlahan, satu per satu, sampai akhirnya ia tiba di ruang tengah mansion yang luas. Di sana, ia duduk di sofa panjang, menyandarkan tubuhnya, dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Kata-kata Alea menggema berulang-ulang dalam kepalanya, Kamu yang menciptakan kekacauan setahun lalu … Kamu menalak aku … Kamu membuang aku begitu

