Koridor rumah sakit berubah kacau dalam hitungan detik. Derap langkah perawat dan beberapa pengunjung terdengar panik. Suara baby Alan yang sempat melengking dari dalam NICU masih menggema di benak Bram—tapi saat ini, fokusnya hanya satu: Alea yang bersandar lemah di dadanya. “Awas … awas … minggir dulu,” ucap salah seorang perawat yang mengantar Bram sambil membuka jalan. Bram membopong Alea dengan kedua tangan, mendekapnya erat namun berhati-hati, seolah sedikit guncangan saja bisa mematahkan sesuatu. Darah dari kening Alea menetes di kemejanya, tapi Bram tidak peduli. Napasnya memburu. Rahangnya mengeras. Dadanya bergolak hebat—ketakutan, kemarahan, dan sesuatu yang tidak mau ia akui namanya. Alea mengerang lemah. “Sakit … kepalaku panas … perih sekali.” “Iya, iya. Sabar. Kita sampa

