Koridor menuju NICU mulai sedikit lengang menjelang sore. Lampu-lampu putih yang sejak tadi menyala terang membuat setiap sudut ruangan terasa lebih dingin dari biasanya. Bau antiseptik kental memenuhi udara, bercampur dengan suara mesin monitor yang berdetak pelan dari dalam ruang perawatan bayi prematur. Mama Linda baru saja bangun dari tidurnya di ruang istirahat setelah tertidur sebentar. Kepalanya masih berat, tetapi hatinya jauh lebih gelisah. Ia bangkit sambil merapikan dressnya, lalu mencari-cari sosok Alea. Biasanya Alea duduk di kursi panjang dekat dispenser, menunggu update kondisi baby Alan. Tapi kali ini, tak ada sosok perempuan berperban itu. Mama Linda menghentikan salah satu perawat yang lewat. “Sus, lihat Alea? Yang tadi menggendong Alan sebentar itu di ruang NICU.” P

