Satu jam berlalu sejak Mama Linda meninggalkan kamar 514. Suasana ruang rawat itu tetap sama—hening, temaram, dan diselimuti aroma obat yang menempel di dinding-dinding putihnya. Hanya suara AC yang berputar perlahan dan detak jam dinding yang menjadi pengisi celah-celah sunyi. Bram tidak bergerak dari kursinya sejak tadi. Lengan bajunya masih ada noda darah Alea, tapi ia sama sekali tidak berniat mengganti. Pandangannya hanya tertuju pada wajah perempuan itu. Pada gerak napasnya yang naik turun pelan. Pada alisnya yang sesekali berkedut kecil seolah tubuhnya mengingat rasa sakit. Dan di sela-sela itu, Bram tenggelam dalam pikirannya—terutama tentang jarak yang akan kembali tercipta saat Alea bangun. Ketika kelopak mata Alea akhirnya bergerak, Bram sontak tegak, napasnya nyaris tertahan

