Koridor rumah sakit itu masih terasa dingin, meski jam sudah mendekati siang. Udara dari AC bercampur aroma antiseptik yang menusuk. Suara langkah kaki para perawat, denting troli logam, dan mesin-mesin medis dari jauh membentuk simfoni khas rumah sakit yang tak pernah benar-benar tenang. Alea yang duduk dengan tubuh sedikit membungkuk masih terlihat pucat. Bram berdiri tidak jauh darinya, tangan dimasukkan ke saku, wajahnya tetap sama: dingin, tegang, namun matanya selalu mengikuti gerak Alea, seolah ia takut perempuan itu jatuh lagi. Pintu lift terbuka dan suara yang sangat Alea kenali terdengar. “Alea?” Alea menoleh. Eka—kakak sepupunya—berjalan cepat mendekat sambil membawa tas kecil. Wajah Eka terkejut, bingung, dan sedikit panik melihat kondisi Alea yang memakai perban di kepala.

