Javier duduk di balik meja kerjanya yang besar, permukaannya rapi tanpa satu pun berkas berserakan. Jendela kaca di belakangnya memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian, gedung-gedung menjulang, lalu lintas bergerak seperti aliran tak pernah berhenti. Pemanbdangan yang biasa. Terlalu biasa bagi seseorang sepertinya.
Tangannya memegang pulpen, namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di laporan yang terbuka di hadapannya.
Sesekali bayangan wajah Sarah muncul begitu saja. Cara perempuan itu berdiri kikuk pagi tadi. Cara ia menunduk, seolah takut salah posisi di dunia yang baru saja menelannya. Cara ia mengangguk patuh, meski Javier tahu, di balik sikap itu ada jiwa yang belum menemukan tempat berpijak.
Ketukan pintu tidak terdengar.
Karena pintu itu tidak diketuk sama sekali.
Pintu ruangannya terbuka begitu saja, tanpa izin, tanpa basa-basi.
Javier bahkan tidak langsung mendongak. Ia sudah tahu siapa yang berani melakukan itu.
“Damn, ini serius ruangam suami orang sekarang?”
Suara tawa memenuhi ruangan. Kasar. Bebas. Tidak sopan.
Dua lelaki melangkah masuk dan langsung menjatuhkan diri ke sofa kulit hitam di sudut ruangan Javier seolah tempat itu milik mereka sendiri. Kaki disilangkan, jas dibuka, sikap mereka terlalu santai untuk ukuran ruang direktur utama perusahaan sebesar ini.
Leonard dan Victor.
Dua nama yang sudah Javier kenal terlalu lama. Teman lama. Rekan bisnis. Sekaligus saksi hidup dari reputasinya selama bertahun-tahun.
Javier akhirnya mengangkat wajahnya, menatap mereka dengan sorot datar. “Kalian lupa caranya mengetuk?”
Leonard tertawa, menepuk sandaran sofa. “Ayolah, Javi. Jangan kaku begitu. Sekarang kamu sudah menikah, masa langsung berubah jadi pria bermoral?”
Victor ikut tertawa, lalu menyandarkan punggungnya. “Kami dengar kabar itu pagi ini. Kami hampir tersedak kopi mendengarnya.”
Javier meletakkan pulpennya perlahan. Gerakannya tenang, tapi ada tekanan halus di baliknya. “Kalian ke sini bukan untuk bercanda.”
“Oh kami justru ke sini untuk memastikan,” jawab Leonard sambil menyeringai. “Javier Horrison. Pria yang selama ini gonta-ganti wanita seperti mengganti jam tangan. Menikah. Resmi. Dengan buku nikah. Upacara. Resepsi. Lengkap.”
Victor menggeleng, seolah masih tidak percaya. “Kami pikir itu cuma rumor. Atau salah satu permainanmu.”
Javier menyandarkan tubuhnya ke kursi, menyilangkan tangan di d**a. “Dan sekarang?”
“Sekarang?” Leonard menyeringai lebih lebar. “Sekarang kami penasaran. Apa yang salah denganmu?”
Tawa kembali pecah, memenuhi ruangan. Tawa yang mengejek, bukan heran. Tawa orang-orang yang mengenal versi lama Javier dan menolak menerima versi baru yang bahkan belum sepenuhnya dipahami oleh Javier sendiri.
“Kami mengenalmu,” lanjut Victor, nadanya sedikit lebih serius meski senyumnya masih menggantung. “Kamu tidak pernah percaya pada pernikahan. Kamu selalu bilang itu jebakan.”
“Dan tiba-tiba kamu masuk ke dalamnya,” sambung Leonard. “Dengan sukarela.”
Javier tidak langsung menjawab. Tatapannya bergeser ke jendela, ke kota di bawah sana. Ia menghela napas pelan, lalu kembali menatap mereka.
“Ada hal-hal yang tidak perlu kalian pahami,” katanya dingin.
Leonard mendengus. “Oh, jadi sekarang kamu misterius juga.”
Victor mencondongkan tubuh ke depan. “Siapa dia?”
Pertanyaan itu membuat ruangan hening sejenak.
Javier tidak menjawab langsung. Bukan karena ragu, tapi karena ia memilih kata-kata dengan hati-hati. Sarah bukan topik yang ingin ia jadikan bahan ejekan.
“Namanya Sarah,” ucapnya akhirnya.
Leonard mengangkat alis. “Bukan dari kalangan kita, jelas.”
“Dan itu urusanmu?” balas Javier cepat.
Victor tertawa kecil. “Santai saja. Kami hanya kaget. Kamu tahu reputasimu sendiri.”
Javier berdiri dari kursinya. Tubuhnya tinggi, posturnya tegap, aura dominannya langsung memenuhi ruangan. Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan meja, jarak yang membuat Leonard dan Victor refleks menegakkan badan.
“Aku menikah bukan karena aku harus,” kata Javier rendah namun tegas. “Dan bukan karena aku dipaksa.”
Leonard menatapnya, senyumnya sedikit memudar. “Jadi kamu jatuh cinta?”
Kata itu menggantung di udara.
Javier terdiam sesaat. Sangat singkat. Tapi cukup untuk membuat Victor menangkap sesuatu yang berbeda.
“Aku bertanggung jawab,” jawab Javier akhirnya.
Victor menyipitkan mata. “Itu bukan jawaban.”
“Dan aku tidak butuh persetujuan kalian,” balas Javier tanpa ragu.
Hening kembali mengisi ruangan. Tidak canggung, tapi penuh tekanan. Leonard menyandarkan tubuhnya lagi, kali ini tanpa tawa. “Kamu berubah.”
Javier menatap mereka satu per satu. “Orang berubah.”
Victor berdiri, merapikan jasnya. “Hati-hati saja, Javi. Pernikahan itu bukan permainan.”
“Aku tahu,” jawab Javier singkat.
Leonard ikut berdiri. “Kami hanya tidak ingin kamu menyesal.”
Javier mengangguk kecil. “Aku jarang melakukan sesuatu yang tidak kupikirkan.”
Mereka berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, Victor berhenti sejenak. “Perempuan itu… tahu siapa kamu sebenarnya?”
Javier tidak langsung menjawab. Matanya sedikit meredup. “Dia akan tahu. Pelan-pelan.”
Victor mengangguk, lalu membuka pintu. “Semoga saja.”
Pintu tertutup.
Ruangan kembali sunyi.
Javier berdiri beberapa saat, lalu kembali duduk. Tangannya kembali mengambil pulpen, tapi kali ini ia tidak menulis apa pun. Pikirannya kembali ke mansion. Ke perkebunan. Ke Sarah yang mungkin sedang mencoba mencari tempatnya sendiri di dunia yang terlalu besar untuknya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Javier Horrison bertanya pada dirinya sendiri bukan tentang bisnis, bukan tentang kekuasaann, tapi tentang satu hal yang tidak bisa ia kendalikan sepenuhnya.
Apakah ia bisa melindungi perempuan yang kini menyandang namanya?
**
Mobil Javier melaju stabil di jalur cepat kota. Lampu lalu lintas berganti dengan ritme teratur, deretan gedung tinggi memantulkan cahaya sore yang mulai meredup. Tangannya mantap di setir, wajahnya lurus ke depan, pikirannya seharusnya kembali ke angka, rapat, dan laporan.
Seharusnya.
Namun bayangan pagi tadi terus menyelip di sela pikirannya. Sarah yang berdiri canggung di ruang makan. Cara ia mengangguk cepat saat berbicara. Tatapan matanya yang sesekali melirik sekeliling, seolah takut salah tempat. Cara ia berkata itu hanya kebiasaan, seakan kebiasaan hidupnya selama ini selalu menuntut dirinya lebih dulu bangun, lebih dulu memberi.
Javier menghela napas pelan, nyaris tidak terdengar di dalam kabin mobil yang sunyi.
“Apa yang kau lakukan, Javier,” gumamnya tanpa suara.
Lampu merah menyala. Mobil berhenti.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Sebuah toko kue kecil di sudut jalan. Kaca depannya bersih, lampunya hangat, dan etalase yang penuh dengan donat berbagai warna dan topping. Gula, cokelat, glaze mengilap, taburan kacang, krim yang terlihat terlalu lembut untuk diabaikan.
Javier melirik sekilas.
Lalu melirik lagi.
Shit.
Entah sejak kapan, pikirannya langsung melompat pada satu wajah. Sarah. Dengan ekspresi terkejut kecil itu. Dengan mata yang mungkin akan berbinar tanpa ia sadari. Dengan senyum malu-malu yang sering ia tahan, seolah senang adalah sesuhatu yang harus ia sembunyikan.
Javier mengencangkan rahangnya.
Kenapa sekarang?
Ia bukan tipe pria yang berhenti di toko kue sepulang kerja. Ia tidak pernah membeli donat untuk siapa pun. Hidupnya selalu efisien. Jika lapar, ia makan. Jika tidak, ia lanjutkan hari. Tidak ada impuls kecil seperti ini.
Lampu hijau menyala.
Mobil di belakangnya membunyikan klakson pelan.
Javier menginjak gas… lalu melepasnya lagi.
Setir berbelok tanpa ia pikirkan terlalu lama.
“b******k,” desisnya pelan.
Mobilnya masuk ke area parkir kecil di depan toko itu. Mesin dimatikan. Untuk beberapa detik, Javier hanya duduk diam, menatap lurus ke depan, seolah masih berdebat dengan dirinya sendiri.
Ini bodoh.
Ini tidak perlu.
Ini terlalu… personal.
Namun bayangan Sarah di perkebunan pagi tadi melalui CCTV—entah kenapa—mengalahkan semua logika itu.
Javier membuka pintu dan turun.
Bel pintu toko berbunyi halus saat ia masuk. Aroma manis langsung menyambutnya. Hangat. Mengganggu. Membuatnya merasa sedikit… tidak pada tempatnya. Beberapa pelanggan lain menoleh sekilas, lalu kembali ke pilihan mereka. Tidak ada yang mengenali siapa dirinya. Dan itu justru membuatnya semakin asing.
Seorang pegawai wanita tersenyum ramah. “Selamat sore, Pak.”
Javier mengangguk singkat. “Sore.”
Matanya langsung tertuju ke etalase. Ia berdiri di sana, menatap deretan donat seolah sedang menilai proposal besar. Tangannya masuk ke saku celana, bahunya sedikit tegang.
Yang mana?
Pertanyaan itu membuatnya hampir tertawa sendiri. Ia tidak pernah memikirkan hal seperti ini sebelumnya. Tapi kini, ia benar-benar mencoba membayangkan.
Sarah suka yang manis atau tidak?
Apakah dia lebih suka cokelat? Atau sesuatu yang sederhana?
Pegawai itu mendekat sedikit. “Boleh dibantu, Pak?”
Javier mengangguk. “Yang… tidak terlalu manis.”
Pegawai itu tersenyum lebih lebar. “Yang glaze klasik cocok. Cokelat juga favorit banyak orang.”
Javier mengamati donat glaze itu. Mengilap, sederhana, tidak berlebihan. Tanpa banyak pikir, ia menunjuk. “Ambil beberapa itu. Dan… yang cokelat.”
Pegawai itu mulai mengambil donat dengan penjepit, memasukkannya ke dalam kotak putih. “Berapa lusin, Pak?”
Javier terdiam sejenak. Lusin terdengar terlalu banyak. Terlalu serius. “Setengah lusin.”
Kotak ditutup rapi. Pegawai itu menyerahkannya dengan senyum. “Semoga suka, Pak.”
Javier mengambilnya, membayar, lalu mengangguk singkat sebelum keluar.
Begitu kembali ke mobil, ia meletakkan kotak donat itu di kursi penumpang. Ia menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang.
Apa yang sebenarnya kau harapkan?
Ia tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu hanya satu hal kecil yang tidak bisa ia abaikan lagi.
Ia memikirkan Sarah bukan sebagai kewajiban. Bukan sebagai keputusan. Tapi sebagai seseorang.
Mobil kembali melaju, kali ini menuju mansion dengan kecepatan yang sedikit lebih pelan dari biasanya. Di kursi sebelahnya, kotak donat itu bergeser sedikit setiap kali mobil berbelok, seolah mengingatkan Javier bahwa ada sesuatu yang berbeda menunggunya di rumah.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Javier pulang bukan hanya ke sebuah bangunan besar—melainkan ke seseorang yang tanpa sadar mulai menempati ruang kecil di dalavm dirinya.
***
Mobil Javier berhenti tepat di depan pintu utama mansion. Mesin dimatikan, dan keheningan langsung menyelimuti kabin. Javier tidak langsung tugrun. Ia menoleh sekilas ke kursi penumpang, menatap kotak donat putih yang tergeletak rapi di sana.
Untuk sesaat, ia hanya duduk diam.
Lalu ia membuka pintu dan turun.
Langkahnya mantap saat menaiki anak tangga menuju pintu besar mansion. Salah satu pelayan segera membukakan pintu dengan cekatan, menundukkan kepala hormat. Javier mengangguk singkat sebagai balasan, lalu langsung melangkah masuk.
Pandangan pertamanya menyapu ruang depan.
Kosong.
Tidak ada Sarah.
Javier menoleh ke kiri, ke kanan, melangkah ke ruang keluarga, lalu ke ruang makan. Tidak ada suara langkah kecil. Tidak ada keberadaan yang ia cari tanpa sadar sejak turun dari mobil.
Keningnya berkerut tipis.
Ia berjalan lebih jauh, melewati lorong, melirik ke tamabn dalam melalui jendela kaca. Tetap kosong. Keheningan mansion itu tiba-tiba terasa berbeda dari pagi tadi. Terlalu sunyi, seolah rumah itu kehilangan pusat gravitasinya.
Javier berhenti di dekat tangga.
Seorang pelayan wanita melintas membawa nampan kecil. Javier memanggilnya dengan nada tenang. “Di mana Sarah?”
Pelayan itu langsung berhenti, menunduk hormat. “Nyonya sedang di teras belakang, Tuan.”
Javier mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah menuju arah yang ditunjukkan. Langkahnya lebar, terukur, namun ada sesuatu yang berbeda kali ini. Bukan tergesa, tapi ada tujuan yang jelas.
Kotak donat di tangan kanannya terasa lebih berat dari seharusnya.
Ia melewati lorong panjang yang mengarah ke halaman belakang. Cahaya sore masuk dari jendela-jendela tinggi, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer. Suara alam mulai terdengar samar. Angin. Daun. Burung.
Begitu pintu kaca terbuka, pemandangan teras belakang terbentang di hadapannya.
Dan di sanalah Sarah.
Ia duduk di salah satu kursi rotan di teras, tubbuhnya menghadap ke arah perkebunan yang terbentang di kejauhan. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai terlepas dan tertiup angin. Pakaian rumah sederhana yang ia kenakan membuatnya terlihat lebih kecil, lebih nyata.
Sarah tampak tidak menyadari kehadiran Javier. Tatapannya kosong namun tenang, seolah pikirannya sedang berjalan jauh dari mansion itu. Kedua tangannya bertumpu di pangkuan, jarinya saling bertaut tanpa sadar.
Javier berhenti melangkah.
Ia berdiri beberapa detik di ambang pintu, hanya menatap.
Tidak ada riasan. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada sikap yang dibuat-buat. Sarah terlihat seperti seseorang yang akhirnya menemukan sudut kecil untuk bernapas.
Dan entah kenapa, pemandangan itu membuat d**a Javier terasa sedikit sesak.
Ia melangkah mendekat, langkah kakinya menimbulkan suara pelan di lantai kayu teras. Sarah tersentak kecil saat menyadari ada bayangan jatuh di lantai di dekat kakinya.
Ia menoleh.
Mata mereka bertemu.
“Oh,” ucap Sarah pelan, agak terkejut. “Kamu sudah pulang.”
Javier mengangguk. “Baru saja.”
Ia berdiri di depannya, lalu menurunkan pandangan ke tangannya sendiri, seolah baru ingat alasan ia ke sini. Tanpa banyak kata, Javier mengangkat kotak donat itu sedikit.
“Aku… lewat toko kue,” katanya singkat.
Sarah menatap kotak itu, matanya mengerjap beberapa kali. “Untuk… aku?”
Javier mengangguk lagi, sedikit kaku. “Kalau kamu mau.”
Sarah terdiam. Wajahnya menunjukkan kebingungan kecil yang cepat berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat. Bibirnya melengkung membentuk senyum kecil yang nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat Javier menangkapnya.
“Terima kasih,” ucap Sarah lirih.
Ia menerima kotak itu dengan kedua tangan, seperti menerima sesuatu yang rapuh. Saat jarinya menyentuh karton kotak, ekspresinya berubah sedikit, seolah sentuhan sederhana itu membawa makna yang lebih besar dari sekadar donat.
Javier menarik kursi di sebelahnya dan duduk. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi juga tidak sejauh biasanya. Angin sore berhembus lembut di antara mereka, membawa aroma tanah dari perkebunan.
“Kamu seharian di sini?” tanya Javier akhirnya.
Sarah mengangguk. “Aku… ke perkebunan tadi. Hanya ingin melihat-lihat.”
Javier menatap ke arah yang sama. “Kamu suka?”
Sarah tersenyum kecil. “Di sana terasa lebih… hidup dan menyenangkan sekali.”
Javier tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan.
Mereka duduk berdampingan dalam keheningan yang aneh namun tidak canggung. Sarah membuka kotak donat itu perlahan. Aroma manis langsung menyebar di udara.
Sarah mengambil satu donat glaze, menatapnya sejenak, lalu menggigitnya pelan. Matanya sedikit melebar, lalu ia tersenyum, senyum yang jujur dan tanpa sadar.
“Enak,” katanya singkat.
Javier memperhatikan reaksinya tanpa menolehkan wajah sepenuhnya. Di dadanya, ada sesuatu yang terasa… tepat.
Sore itu, di teras belakang mansion, tanpa kata-kata besar dan janji apa pun, Javier dan Sarah duduk bersama, berbagi keheningan, donat sederhana, dan perasaan baru yang pelan-pelan mulai menemukan bentuk.