Bab 07

1680 Kata
Pagi menyongsong dengan cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai tebal, jatuh tepat di wajah Sarah. Ia mengernyit, lalu membuka matanya perlahan. Kesadarannya muncul sedikit demi sedikit, seperti kabut yang terangkat pelan dari permukaan danau. Langit-langit kamar itu kembali menyambut pandangannya. Dketik berikutnya, matanya membulat. Oh s**t. Sarah langsung terduduk di ranjang, selimut tersingkap, jantungnya berdegup lebih cepat dari yang seharusnya. Refleks lama muncul begitu saja, refleks yang terbentuk dari bertahun-tahun hidup dengan aturan tak tertulis. Istri harus menyiapkan sarapan. Istri harus bangun lebih dulu. Pandangannya langsung beralih ke sisi ranjang yang lain. Javier masih tertidur. Pria itu terbaring dengan posisi miring ke samping, satu lengannya berada di atas selimut, wajahnya tenang, napasnya teratur. Tidak ada tanda-tanda kegelisahan, tidak ada kekakuan yang biasa ia tampilkan saat terjaga. Dalam tidurnya, Javier terlihat… biasa saja. Manusia biasa. Sarah menelan ludah. Ia bergerak turun dari ranjang dengan sangat hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara apa pun. Telapak kakinya menyentuh lantai dingin, dan ia menghela napas kecil saat menyadari tubuhnya masih terasa sedikit kaku. Semalam terlalu banyak emosi untuk sebuah malam pertama pernikahan. Ia segera masuk ke kamar mandi. Tidak lama. Air mengalir cepat, sabun, handuk, rambut diikat seadanya. Semua dilakukan dengan gerakan terburu-buru namun terkontrol. Tidak ada waktu untuk berlama-lama menatap bayangan diri sendiri hari ini. Begitu keluar dari kamar mandi, Sarah langsung mengenakan pakaian sederhana yang tersedia di lemari. Bukan gaun, bukan piyama lagi. Pakaian rumah yang rapi, tertutup, netral. Ia melirik Javier sekali lagi sebelum melangkah keluar kamar. Pria itu masih tertidur. Pintu kamar ditutup pelan. Sarah melangkah menyusuri lorong panjang mansion dengan perasaan campur aduk. Lorong itu sunyi, terlalu sunyi untuk rumah sebesar ini. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan besar dengan bingkai emas, lantainya mengilap hingga pantulan langkah kakinya terlihat jelas. Begitu memasuki area ruang makan, langkah Sarah terhenti mendadak. Matanya mengerjap beberapa kali. Di hadapannya, lima orang pelayan sudah berdiri rapi. Meja makan panjang telah tertata sempurna. Piring porselen putih, peralatan makan mengilap, teko kopi, jus segar, roti hangat, buah potong, bahkan hidangan utama yang aromanya menggoda meski Sarah masih terlalu gugup untuk benar-benar menyadarinya. Salah satu pelayan wanita melangkah sedikit ke depan dan menundukkan kepala dengan sopan. “Selamat pagi, Nyonya.” Nyonya. Kata itu membuat Sarah tercekat kecil. Tenggorokannya terasa kering. Ia mengangguk cepat, sedikit kikuk. “Pagi.” Pelayan lainnya ikut menyapa dengan sikap serupa. Tidak ada tatapan menghakimi. Tidak ada bisikan. Semuanya terlihat profesional, terlatih, dan… terbiasa. Sarah berdiri di sana beberapa detik, merasa bodoh. Ia lupa. Lupa bahwa mansion ini tidak seperti tempat tinggal lain yang pernah ia kenal. Lupa bahwa Javier hidup di dunia di mana segalanya sudah diatur, disiapkan, dan dijalankan oleh puluhan orang setiap hari. Tidak ada keharusan baginya untuk bangun pagi demi memasak sarapan. Semua sudah tersedia bahkan sebelum ia membuka mata. “Apakah ada yang bisa kami bantu, Nyonya?” tanya pelayan yang sama dengan suara lembut. Sarah menggeleng pelan. “Tidak… terima kasih.” Ia melangkah mendekat ke meja makan, tangannya menyentuh sandaran kursi. Perasaan canggung itu belum juga pergi. Di satu sisi, ia merasa lega. Di sisi lain, ada rasa asing yang sulit dijelaskan. Selama ini ia terbiasa melakukan sesuatu untuk dianggap berguna. Di sini, keberadaannya saja sudah cukup. Dan itu justru menakutkan. Sarah duduk perlahan. Ia menatap hidangan di depannya tanpa benar-benar berniat menyentuhnya. Matanya melirik ke arah dapur besar yang terbuka, melihat beberapa pelayan lain bergerak tenang, efisien, tanpa suara berlebihan. Rumah ini hidup bahkan tanpa penghuninya. Langkah kaki terdengar dari arah lorong. Sarah mendongak. Javier muncul dengan kemeja santai berwarna gelap, lengan bajunya digulung sampai siku. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi wajahnya tetap menyimpan wibawa yang sama. Matanya langsung tertuju pada Sarah. Ia berhenti sejenak. Tatapan mereka bertemu. “Pagi,” ucap Javier. “Pagi,” jawab Sarah cepat, sedikit gugup. Javier melirik meja makan, lalu para pelayan. “Kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian.” Satu per satu pelayan menunduk hormat lalu mundur dengan tertib, meninggalkan ruangan dengan senyap. Dalam hitungan detik, ruang makan yang tadi terasa seperti restoran pribadi berubah menjadi tempat yang lebih intim. Javier menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Sarah. Ia menuangkan kopi untuk dirinya sendiri, lalu mendorong secangkir teh ke arah Sarah. “Kamu tidak perlu bangun sepagi ini hanya untuk sarapan.” Sarah tersenyum kecil, agak malu. “Kebiasaan.” Javier menatapnya beberapa saat. “Kebiasaan itu tidak selalu perlu dipertahankan.” Kalimat itu sederhana, tapi Sarah menangkap maknanya. Ia mengangguk pelan. Mereka sarapan dalam keheningan yang tidak canggung, tapi juga belum sepenuhnya nyaman. Sendok beradu pelan dengan piring, aroma kopi memenuhi udara, dan cahaya pagi semakin terang menembus jendela besar. Sarah sesekali melirik Javier, mencoba membaca suasana hatinya. Pria itu makan dengan tenang, gerakannya terukur, tidak tergesa-gesa. Tidak ada tekanan. Tidak ada ekspektasi yang diucapkan. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Sarah mulai menyadari satu hal kecil namun penting. Hidupnya kini berada di tempat yang sama sekali baru. Dengan aturan yang berbeda. Dengan peran yang belum ia pahami sepenuhnya. Pagi itu tidak membawa jawaban. Tapi pagi itu memberi ruang bagi Sarah untuk bernapas. *** Di dalam mansion itu, pagi beranjak siang dengan ritme yang hampir tidak terasa. Setelah sarapan usai dabn Javier berangkat bekerja, suasana rumah berubah menjadi terlalu tenang. Terlalu rapi. Terlalu terkendali. Sarah berdiri di dekat jendela besar ruang keluarga, menatap halaman depan yang luas dengan air mancur di tengahnya. Mobil Javier sudah lama menghilang dari pandangan. Kepergiannya meninggalkan kesan hampa yang tidak Sarah duga akan ia rasakan secepat ini. Ia menghela napas. Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Bosan. Perasaan itu datang perlahan, menyusup tanpa permisi. Sarah tidak terbiasa dengan rumah yang sunyi tanpa tuntutan. Di tempat-tempat sebelumnya, selalu ada suara. Musik. Orang-orang. Instruksi. Jadwal. Di sini, semuanya berjalan tanpa membutuhkan dirinya. Ia melirik sekeliling. Para pelayan bergerak tenang di jalur mereka masing-masing. Ada yang membersihkan, ada yang mengecek dekorasi, ada yang sekadar memastikan semua berada di tempatnya. Tidak ada satu pun yang terlihat kewalahan. Tidak ada yang membutuhkan bantuan. Sarah berjalan mendekati salah satu pelayan wanita yang sedang merapikan vas bunga di sudut ruangan. “Maaf,” ucapnya pelan. “Apa ada yang bisa saya bantu?” Pelayan itu menoleh, tersenyum sopan, lalu menggeleng dengan cepat namun tetap hormat. “Tidak ada, Nyonya. Semua sudah tertangani.” Sarah mengerutkan kening sedikit. “Benar-benar tidak ada?” “Tidak, Nyonya,” ulang pelayan itu dengan nada yakin. “Tugas Nyonya hanya bersantai.” Kata hanya itu membuat Sarah berdecak pelan tanpa suara. Ia mengangguk, lalu melangkah menjauh. Bersantai. Kata itu terdengar menyenangkan, tapi bagi Sarah, itu terasa seperti dikurung dalam kemewahan yang tidak ia minta. Ia berjalan tanpa tujuan pasti menyusuri lorong-lorong mansion, langkahnya pelan, pikirannya kosong. Setiap ruangan yang ia lewati terasa terlalu sempurna. Tidak ada sudut berantakan. Tidak ada pekerjaan yang tertunda. Tidak ada celah baginya untuk ikut campur. Akhirnya, ia sampai di pintu kaca besar yang mengarah ke halaman belakang. Sarah mendorong pintu itu dan melangkah keluar. Udara luar langsung menyambutnya, lebih hangat, lebih hidup. Halaman belakang mansion terbentang luas. Rumput hijau terpotong rapi, jalan setapak dari batu alam membelah taman dengan simetris. Di kejauhan, melewati batas taman utama, terlihat area yang berbeda. Lebih alami. Lebih liar. Sebuah perkebunan buah. Sarah menyipitkan mata, menatapnya lebih lama. Pohon-pohon berdiri berderet, daunnya bergerak pelan tertiup angin. Dari jarak itu saja, suasananya terlihat jauh lebih hidup dibandingkan mansion yang ia tinggali sekarang. Rasa penasaran muncul, bercampur dengan kebutuhan untuk melakukan sesuatu. Apa saja. Asal bukban hanya duduk diam menunggu waktu berlalu. Sarah melangkah ke arah seorang pekerja kebun yang terlihat sedang memeriksa tanaman di tepi halaman. “Permisi,” panggilnya. Pekerja itu menoleh, sedikit terkejut melihat Sarah mendekat sendiri tanpa pendamping. “Iya, Nyonya?” “Perkebunan itu,” Sarah menunjuk ke arah deretan pohon. “Itu milik mansion ini?” “Iya, Nyonya,” jawabnya cepat. “Semua hasilnya untuk konsumsi dan distribusi.” Sarah mengangguk pelan. “Bisakah kamu membawaku ke sana?” Pekerja itu ragu sejenak. “Dengan berjalan kaki, jaraknya agak jauh, Nyonya.” “Tidak apa-apa,” balas Sarah spontan, lalu teringat sesuatu. “Atau… ada kendaraan kecil?” Wajah pekerja itu langsung berubah lega. “Ada, Nyonya. Mobil kecil untuk area dalam. Parkir di samping barat mansion.” Sarah tersenyum tipis. “Tolong antar aku.” Beberapa menit kemudian, Sarah duduk di kursi penumpang mobil kecil terbuka, mirip buggy kebun. Angin menerpa wajahnya saat kendaraan itu mulai bergerak menyusuri jalan setapak yang lebih kasar. Mansion perlahan menjauh di belakang mereka, bangunannya yang besar dan megah makin kecil di kejauhan. Sarah merasa dadanya sedikit lebih ringan. Begitu mereka memasuki area perkebunan, suasana berubah drastis. Aroma tanah lembap, daun, dan buah matang langsung tercium. Suara burung terdengar lebih jelas. Tidak ada lantai marmer. Tidak ada lukisan mahal. Hanya alam dan pekerjaan nyata. Mobil berhenti di dekat salah satu barisan pohon buah. Sarah turun, kakinya menginjak tanah dengan rasa asing namun menyenangkan. Ia menatap sekeliling dengan mata berbinar kecil, sesuatu yang jarang muncul di wajahnya akhir-akhir ini. “Buah apa ini?” tanyanya sambil menunjuk pohon dengan buah-buah kecil berwarna cerah. “Jeruk, Nyonya,” jawab pekerja itu. “Yang di sana apel. Di sisi lain mangga.” Sarah berjalan pelan di antara barisan pohon, jarinya menyentuh daun, merasakan teksturnya. Ada rasa nyata yang selama ini ia rindukan. Ia menutup mata sejenak, menghirup udara dalam-dalam. Di sini, tidak ada yang menatapnya sebagai istri orang kaya. Tidak ada yang memanggilnya Nyonya dengan beban ekspektasi. Ia hanya seseorang yang berdiri di tengah perkebunan, menikmati pagi yang bergerak pelan. “Kalau aku mau membantu sedikit,” ucap Sarah tiba-tiba, membuka mata. “Memetik atau apa pun… boleh?” Pekerja itu tampak bingung. “Biasanya… Nyonya tidak perlu—” “Aku ingin,” potong Sarah lembut tapi tegas. Pekerja itu mengangguk ragu. “Kalau begitu… silakan, Nyonya. Tapi hati-hati.” Sarah tersenyum, kali ini lebih tulus. Ia melangkah mendekati salah satu pohon, mengangkat tangan, memetik satu buah dengan gerakan hati-hati. Beratnya pas di telapak tangannya. Untuk pertama kalinya hari itu, Sarah bmerasa berguna. Merasa hadir. Dan jauh dari mansion yang terlalu sunyi itu, di antara pohon-pohon buah dan tanah yang nyata, Sarah mulai menemukan ruang kecil untuk dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN