Bab 02

754 Kata
Sarah menatap pada rumah yang ada di depan matanya sekarang. Ini bukan rumah. Lebih tepatnya mansion. Seumur hidupnya, dia belum pernah melihat mansion secara langsung. Dia memang berasal dari keluarga berada dulu. Tapi masih dikategorikan sederhana. Dan rumahnya hanya dua tingkat dan lumayan luas. Tapi tidak seluas mansion ini, yang mana mansion ini terdiri lima tingkat, dan halamannya saja membuat dirinya merasa minder untuk masuk ke sini. Dirinya merasa tak pantas untuk menginjakkan kakinya ke sini. Karena ini bukan kawasan dirinya. Javier yang menatap Sarah hanya diam dan tidak masuk ke dalam rumah. Dia menaikkan sebelah alisnya, kenapa gadis ini seperti orang bodoh melihat ke sana dan kemari. "Sarah! Apa yang kau lakukan di itu?!" Tanya Javier mengejutkan Sarah. Sarah menggeleng. Dirinya berjalan mendekati pria yang dia duga umurnya jauh di atasnya. Dia yang masih berumur sembilan belas tahun, harus menjadi seorang wanita yang akan mendampingi Javier atau memuaskan nafsu Javier. "Ayo, masuk! Kau tidak boleh berdiri di situ saja. Daddy sudah menyiapkan kamar untukmu, sampai kita menikah nanti baru kau satu kamar denganku." Kata Javier. Sarah mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Javier. "Menikah? Dirinya tidak pernah menyangka kalau dia akan menikah dengan Javier. Dirinya mengira, kalau dia hanya akan menjadi pemuas nafsu Javier saja. "Menikah?" Tanya Sarah. Javier mendengarnya mengangguk. "Ya! Dan aku akan memberikan segalanya padamu Sarah. Tapi kau harus menikah denganku. Kau kira aku hanya memakai dirimu tanpa ikatan?" Tanya Javier. Sarah mengangguk, memang seperti itu yang dipikirkan oleh dirinya. Kalau dia hanya akan menjadi pemuas nafsu dari Javier. "Ya. Aku tak pernah menduga kalau kau akan menikah denganku," kata Sarah, dirinya menatap pada mata tajam Javier. Hanya sebentar dirinya mampu melihat mata tajam dari Javier. Dirinya menatap ke arah lain dengan tatapan gugup. Javier menyeringai. Lalu dirinya berjalan mendekati Sarah, dirinya membelai pipi Sarah lembut. Membuat Sarah merinding dengan apa yang dilakukan oleh Javier padanya. "Kau tahu Sarah, aku sudah memiliki tekad saat membeli dirimu. Kalau kau akan menjadi istriku. Sugar babyku. Dan aku menjadi sugar daddymu. Aku akan memberikan segalanya padamu. Harta. Perhatian. Dan kau harus memberikan kepuasan untukku. Dan menjadi istriku." Kata Javier mencium lembut pipi Sarah. Sarah mengangguk, dirinya tak bisa melawan. Ini sudah menjadi takdirnya, dan dia harusnya bersyukur karena pria di depannya ini mau menikahi dirinya. Dan tidak memakainya saja lalu setelah itu mencampakkan dirinya ke jalanan. Ah! Pria itu akan rugi lima juta dollar kalau mencampakkan dirinya begitu saja. Lebih baik menyuruh Sarah menjadi pelayan di sini dan tanpa digaji selamanya. Sarah menatap tangannya yang ditarik oleh Javier menuju lift dan dia menggeleng pelan, seharusnya dia tidak heran kalau mansion ini memiliki lift. Dia keluar bersama dengan Javier. Dan dia menatap pintu kamar bercat warna putih. Dan Javier membawanya masuk ke dalam kamar ini. Kamar bernuansa putih madu. Dan menyenjukkan untuk dirinya. "Ini kamarmu. Aku akan mengurus pernikahan kita. Dan kau bisa meminta apa saja pada pelayan, untuk pakaianmu sudah ada dalam lemari dan semuanya baru. Untuk sepatu dan sandal. Akan ada seorang besok pagi ke sini membawakan berbagai macam ukuran dan model agar pas untukmu." Kata Javier. Sarah hanya mendengarkan dan dia menatap pada Javier keluar dari dalam kamar ini. Dirinya berjalan menuju ranjang, dan dia duduk di atas ranjang. Kasur ini lebih empuk dibanding kasurnya di rumah. Dan dia akan nyenyak tidur di sini sepertinya. Sugar baby dan sugar daddy. Sarah tersenyum kecut mengingat itu, dirinya tidak harus heran dengan itu semuanya. Karena Javier tidak akan pernah mau mencintai dirinya dan menganggapnya seperti seorang gadis yang dicintai. "Aku harus bersyukur bukan. Yang membeliku bukan pria tua dengan perut buncit dan haus akan belaian. Walaupun aku punya sugar daddy, yang terpenting dia benar-benar sugar daddy yang seperti aku bayangkan dulu. Tampan, kaya, berotot, dan hot." Kata Sarah, dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tanpa sadar dirinya terlelap. Karena kenyamanan yang dibuat oleh kasur ini, membuat dirinya langsung terbang ke alam mimpi dan tidak menyadari Javier kembali masuk ke dalam kamar. Javier melihat Sarah terlelap tersenyum tipis dengan membelai pipi Sarah yang amat lembut. Dia sungguh ingin menyentuh Sarah sekarang juga, namun dia harus menahan. Karena dirinya tahu, kalau Sarah harus menjadi istriny lebih dulu sebelum dirinya menyentuh gadis itu dan memasukkan miliknya yang gagah perkasa ke dalam lubang penuh kenikmatan milik Sarah. "Tidurlah sayang. Karena hidupmu di sini terjamin. Dan kau tidak akan merasakan yang namanya kesusahan di sini," ucap Javier lalu setelahnya dia keluar dari dalam kamar Sarah. Benar-benar meninggalkan Sarah sendirian di dalam kamar itu. Dia menyeringai sebelum menutup pintu kamar itu, seringaian yang memiliki sejuta arti dan makna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN