Sarah masih tertawa cukup lama setelah percakapan mengenai helikopter itu. Bahkan ketika Javier sudah kembali membuka laptopnya, senyum di wajah Sarah sama sekali belum menghilang. Ia memeluk bantal kecil di dadanya. Sesekali menatap Javier. Lalu tertawa sendiri lagi. Javier akhirnya mengangkat kepalanya. "Apa lagi." Sarah menggeleng. "Tidak ada." "Lalu kenapa tertawa." "Aku masih ingat kamu tadi." "Apa." "Kamu bilang lebih baik beli helikopter sungguhan." Javier mengembuskan napas pelan. "Aku memang bilang begitu." "Itu lucu." "Aku serius." Sarah kembali tertawa. "Makanya lucu." Javier akhirnya memutuskan tidak melanjutkan perdebatan itu. Ia membuka kembali laporan perusahaan. Namun baru membaca dua halaman. Sarah kembali memanggil. "Javier." "Hm." "Kalau nanti ana

