Tiana menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang hotel dengan napas panjang yang dilepaskan tanpa ditahan. Kasur empuk itu langsung menyajmbutnya, membuat tubuhnya tenggelam sedikit, seolah menelan seluruh rasa lelah yang sejak tadi ia tahan. Tangannya terentang ke samping, matanya menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu hangat yang menyala lembut. “Gila…” gumamnya pelan. Ia memejamkan mata sejenak, lalu tertawa kecil sendiri. “Untung saja…” lanjutnya, menarik napas panjang, “…hotelnya bintang lima.” Kamar itu luas. Terlalu luas bahkan untuk sekadar beristirahat. Jendela besar memperlihatkan pemandangan kota, lampu-lampu mulai menyala satu per satu seiring sore yang beralih ke malam. Semua terlihat rapi, bersih, teratur—berbanding terbalik dengan jalanan yang baru saja mereka ti

