Pagi di Manhattan belum sepenuhnya terang ketika gelombang baru itu datang. Bukan lagi sekadar komentar atau opini publik—kali ini Amanda muncul langsung, terang-terangan, membawa narasinya sendiri ke hadapan dunia. Video itu menyebar cepat. Sangat cepat. Tiana yang pertama melihatnya. Ia berdiri di ruang tengah, ponsel di tangannya, wajahnya langsung berubah begitu layar menampilkan wajah Amanda—rapi, tenanhg, seolah tidak ada tekanan apa pun yang sedang ia hadapi. “Dia bicara,” ucap Tiana pendek. Sarah yang duduk langsung menoleh. “Apa yang dia bilang?” Tiana tidak menjawab. Ia hanya menyalakan suara. Dan Amanda mulai berbicara. “Aku tidak akan diam ketika kebenaran diputarbalikkan.” Nada suaranya stabil. Terlatih. Seolah semua sudah dipersiapkan. “Aku tidak membuat cerita

