Malam di Manhattan semakin larut, namun bagi sebagian orang—ini justru awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Di mansion Javier, suasana tetap terjaga, setiap sudut terasa hidup dengan kewaspadaan yang tidak pernah benar-benar turun. Namun jauh dari sana, di ruang apartemen Amanda, udara terasa berbeda. Lebih panas. Lebih sempit. Lebih… menekan. Amanda berdiri di depan meja kerjanya, ponsel di tangan, layar masih menampilkan berita terbaru. Nama Javier disebut dengan berbagaiu sudut pandang. Ada yang membela. Ada yang meragukan. Ada yang menunggu hasil hukum. Dan di antara semua itu—namanya sendiri mulai berubah dari pusat kendali… menjadi target. Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras. “Tidak…” bisiknya pelan. Ia menggeleng. Perlahan. Namun penuh penolakan. “Aku tidak akan ka

