Pagi itu dapur mansion terasa berbeda. Tidak seramai biasanya, tidak penuh instruksi singkat para pelayan, tidak ada suara langkah cepat yang saling berbkejaran. Sarah berdiri sendiri di tengah ruang dapur yang luas, mengenakan dress rumah sederhana berwarna krem, rambutnya diikat asal. Tangannya masih sedikit bergetar ketika ia menata piring terakhir di atas meja makan panjang.
Ia menatap sarapan yang sudah ia buat dengan penuh perhatian, seolah setiap detail di atas meja itu adalah ujian besar.
Roti ciabatta cheese tersusun rapi, masih mengepulkan uap tipis. Keju di bagian atasnya meleleh sempurna, berwarna keemasan, aromanya lembut tapi menggoda. Di sampingnya ada telur orak-arik yang ia buat perlahan, tidak terlalu kering, tidak terlalu basah. Ia bahkan menambahkan sedikit daun parsley, meski tidak yakin Javier akan peduli pada hal kecil seperti itu.
Sejak tadi para pelayan mondar-mandir di ambang pintu dapur, wajah mereka jelas menyimpan kegelisahan.
“Mrs… biar kami saja yang—” salah satu pelayan wanita mencoba lagi, suaranya tertahan.
Sarah menggeleng sambil tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Aku mau buat sendiri.”
“Tapi Tuan Javier—”
“Javier tidak akan marah,” potong Sarah, nadanya lembut tapi tegas. “Aku yang bilang begitu.”
Para pelayan saling berpandangan. Ketakutan mereka bukan tanpa alasan. Semua orang di mansion ini tahu seperti apa Javier Horrison ketika sesuatu tidak berjalan sesuai kebiasaannya. Tapi pada akhirnya, mereka mundur juga, meski langkah mereka berat, seolah takut bayangan kemarahan yang bahkan belum terjadi.
Kini Sarah sendirian.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya bertumpu di tepi meja makan. Ia menatap roti itu lagi, berharap dalam hati.
Semoga dia suka.
Harapan itu muncul begitu saja, sederhana, tapi terasa berbahaya. Karena Sarah tahu, setiap kali ia berharap pada Javier, selalu ada risiko kecil di baliknya.
Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Suara sepatu kulit yang dikenalnya dengan baik. Sarah menegang seketika, refleks tubuhnya bekerja lebih cepat dari pikirannya. Ia meluruskan punggung, merapikan ujung dress-nya, lalu berdiri dengan sikap yang ia anggap pantas.
Javier muncul di ambang ruang makan, mengenakan kemeja putih bersih dan celana hitam rapi. Jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya. Rambutnya tertata sempurna seperti biasa, ekspresinya datar, nyaris tak terbaca.
Pandangan Javier langsung jatuh ke meja makan.
Bukan ke Sarah.
Matanya menyapu susunan makanan, berhenti cukup lama pada roti ciabatta cheese itu. Ia mengangkat alis sedikit, gerakan kecil yang hampir tak terlihat.
“Kau membuat ini?” tanyanya akhirnya.
Sarah mengangguk cepat. “Iya, Daddy.”
Sebutan itu keluar otomatis dari bibirnya, seperti kebiasaan yang sudah melekat. Javier meliriknya sekilas saat mendengar panggilan itu, tatapannya tajam tapi tidak keras.
“Kau menyuruh pelayan pergi?” lanjutnya.
“Iya.” Sarah menelan ludah. “Aku ingin mencobanya sendiri. Aku… aku ingin belajar.”
Javier menarik kursi dan duduk. Gerakannya tenang, penuh kendali. Ia tidak langsung menjawab. Ia mengambil pisau, memotong sepotong kecil roti, lalu mengangkatnya ke mulut.
Detik terasa memanjang bagi Sarah.
Ia berdiri diam, tangannya saling menggenggam di depan perut, dadanya naik turun perlahan. Ia menunggu reaksi. Sekecil apa pun.
Javier mengunyah dengan pelan. Tatapannya kosong, seolah ia sedang memikirkan hal lain. Setelah beberapa saat, ia menelan, lalu mengambil potongan kedua.
“Tidak buruk,” ucapnya akhirnya.
Hanya dua kata.
Tapi bagi Sarah, rasanya seperti hadiah besar. Bahunya yang sejak tadi tegang sedikit mengendur. Senyum kecil muncul tanpa ia sadari.
“Aku senang Daddy suka,” katanya lirih.
Javier meliriknya lagi, kali ini lebih lama. “Duduk.”
Sarah menurut. Ia duduk di kursi seberangnya, meski sebenarnya ia sudah makan sedikit di dapur. Ia tidak menyentuh piringnya, hanya memperhatikan Javier makan dengan sikap hati-hati, seolah takut melakukan kesalahan kecil.
“Kau tidak perlu melakukan ini setiap hari,” kata Javier tiba-tiba. “Pelayan ada untuk itu.”
Sarah mengangguk. “Aku tahu. Tapi… aku mau.”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu membuat Sarah terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Jari-jarinya memainkan ujung taplak meja.
“Aku tidak mau hanya… diam di mansion,” ucapnya akhirnya, jujur. “Aku tidak mau merasa seperti tidak berguna.”
Javier berhenti makan. Ia menyandarkan punggung, menatap Sarah dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Kau tidak dibeli untuk menjadi berguna di dapur,” katanya datar.
Kalimat itu menusuk, meski disampaikan tanpa emosi. Sarah tersenyum kecil, menutupi rasa perih yang tiba-tiba muncul.
“Aku tahu,” jawabnya pelan.
Hening kembali mengisi ruang makan. Javier akhirnya berdiri, merapikan manset kemejanya.
“Aku akan ke kantor,” katanya. “Jangan keluar tanpa pengawal.”
Sarah mengangguk. “Baik, Daddy.”
Javier melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Sarah tetap duduk di sana beberapa saat setelah langkah kaki itu menghilang. Ia menatap piring yang hampir kosong, lalu roti yang masih tersisa. Ada rasa hangat kecil di dadanya, bercampur dengan sesuatu yang lebih pahit.
Ia berhasil membuat Javier makan masakannya.
Namun, ia juga diingatkan dengan jelas akan posisinya.
Sarah berdiri perlahan, mengumpulkan piring, lalu menyerahkannya pada pelayan yang kini kembali mendekat. Saat berjalan menjauh dari ruang makan, pikirannya berputar.
Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan dalam keseimbangan aneh ini. Antara ingin menyenangkan Javier, dan tidak kehilangan dirinya sendiri.
Dan tanpa ia sadari, setiap hal kecil seperti roti ciabatta cheese pagi ini, perlahan mengikat hatinya lebih dalam pada lelaki yang bahkan belum menyentuhnya.
**
Mobil hitam itu melaju tenang meninggalkan halaman mansion. Sarah duduk di kursi belakang, tangannya terlipat di pangkuan, pandangannya tertuju ke luar jendela. Di samping kursi pengemudi dban satu lagi di depan, dua pengawal Javier duduk tegak, wajah mereka datar, nyaris tanpa ekspresi. Yang duduk di sampingnya—pengawal utama yang selalu ditugaskan mengikutinya—tidak banyak bicara sejak mereka berangkat.
“Ke toko bunga di pusat kota,” kata Sarah tadi dengan suara pelan tapi jelas.
Pengawal itu hanya mengangguk. Tidak bertanya kenapa. Tidak memberi komentar. Seperti biasa.
Sarah sudah terbiasa dengan sikap itu. Semua orang yang bekerja untuk Javier punya satu kesamaan: patuh, kaku, dan tidak pernah mencampuri urusan yang bukan hak mereka. Termasuk urusan perasaan.
Mobil berhenti di depan sebuah toko bunga besar dengan etalase kaca lebar. Dari luar saja sudah terlihat deretan bunga segar dengan warna-warna lembut dan mencolok bercampur jadi satu. Sarah turun perlahan, menarik napas ketika aroma bunga langsung menyambutnya.
Pengawal itu turun mengikuti, berdiri setengah langkah di belakang Sarah. Jarak yang cukup dekat untuk mengawasi, cukup jauh untuk tidak mengganggu—setidaknya secara fisik.
Begitu melangkah masuk, lonceng kecil di atas pintu berdenting. Udara di dalam toko terasa sejuk, dipenuhi aroma mawar, lily, peony, dan bunga-bunga yang namanya bahkan tidak Sarah kenal. Matanya berbinar tanpa sadar.
“Selamat datang,” sapa seorang pegawai toko dengan senyum ramah.
Sarah membalas dengan anggukan kecil. “Aku mau bunga impor. Yang kualitasnya bagus.”
Pegawai itu tampak sedikit terkejut, lalu cepat tersenyum profesional. “Tentu, Madam. Silakan ikut saya.”
Sarah melangkah mengikuti, sementara pengawal tetap berada di belakangnya, matanya waspada, menyapu seluruh ruangan. Beberapa pelanggan lain sempat melirik ke arah mereka—bukan pada Sarah saja, tapi juga pada sosok besar berjas hitam yang berdiri terlalu tegap untuk sekadar pembeli biasa.
Di sudut toko, deretan bunga impor tersusun rapi. Mawar Ekuador dengan kelopak besar dan tebal, peony dari Belanda yang lembut dan penuh, tulip dengan warna pastel yang tenang, serta lily putih yang tampak bersih dan elegan.
Sarah berdiri lama di depan rak itu. Tangannya terangkat, nyaris menyentuh kelopak mawar merah muda, lalu ragu dan menariknya kembali.
“Kamar itu terlalu besar,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Kalau hanya bunga biasa… rasanya cepat mati.”
Pegawai toko mendekat. “Madam ingin untuk acara khusus?”
Sarah terdiam sejenak. Ia tidak tahu harus menyebut apa. Pernikahan mereka sudah lewat. Tidak ada perayaan lain. Tidak ada momen resmi.
“Untuk kamar,” jawabnya akhirnya. “Kamarku dengan suamiku.”
Pegawai itu mengangguk mengerti, meski tatapannya sempat melirik ke arah pengawal yang berdiri tanpa ekspresi. “Kalau begitu, saya sarankan kombinasi peony dan mawar Ekuador. Tahan lama dan wanginya lembut. Tidak terlalu menyengat.”
Sarah mengangguk pelan. “Aku mau yang warnanya tenang. Putih, krem, sedikit merah muda.”
“Baik.”
Saat pegawai itu mulai memilih bunga, Sarah melangkah sedikit menjauh, matanya menelusuri sudut toko lain. Ia berhenti di depan vas kaca bening berukuran sedang. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Sederhana.
“Yang itu,” katanya sambil menunjuk.
Pegawai itu mencatat. “Pilihan yang bagus.”
Pengawal mendekat satu langkah. “Madam, apakah ini sudah sesuai dengan perintah Tuan Javier?”
Sarah menoleh, sedikit terkejut. Ia menggeleng. “Ini bukan perintahnya. Ini keinginanku.”
Pengawal itu diam beberapa detik, lalu mengangguk. “Baik. Saya hanya memastikan.”
Sarah menghela napas pelan. Bahkan membeli bunga pun terasa seperti keputusan besar di hidupnya sekarang.
Beberapa menit kemudian, rangkaian bunga selesai. Cantik. Lembut. Tidak berlebihan. Sarah menatapnya lama, ada rasa puas kecil yang muncul di dadanya.
“Cantik,” gumamnya.
“Terima kasih, Madam,” ujar pegawai toko. “Kami akan membungkusnya dengan aman.”
Sarah membayar tanpa menawar. Harga tidak lagi menjadi hal yang perlu ia pikirkan sejak menikah dengan Javier. Namun perasaan asing itu tetap muncul—perasaan seperti meminjam hidup orang lain.
Dalam perjalanan pulang, Sarah memangku kotak bunga itu dengan hati-hati, seolah sedang membawa sesuatu yang rapuh. Mobil kembali sunyi. Hanya suara mesin dan lalu lintas yang samar terdengar.
Pengawal itu melirik sekilas ke bunga di pangkuan Sarah. “Tuan Javier menyukai kamar yang rapi dan sederhana.”
Sarah tersenyum kecil. “Aku tahu. Itu sebabnya aku memilih yang tidak terlalu mencolok.”
Pengawal itu tidak menjawab lagi.
Sesampainya di mansion, Sarah langsung menuju kamar. Ia menyuruh pelayan meletakkan bunga itu di meja kecil dekat jendela. Ia sendiri yang mengatur posisinya, memastikan vas itu terkena cahaya sore dengan cukup.
Saat selesai, ia mundur satu langkah, menatap hasilnya.
Kamar itu terasa sedikit… hidup.
Sarah duduk di tepi ranjang, memandangi bunga itu sambil berpikir. Ia tidak tahu apakah Javier akan menyadarinya. Ia tidak tahu apakah lelaki itu akan peduli. Tapi setidaknya, ada sesuatu di kamar ini yang benar-benar ia pilih sendiri.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Sarah merasa, meski sedikit, ia masih punya kendali atas ruang kecil dalam hidupnya.
Ia tidak sadar bahwa malam nanti, ketika Javier masuk ke kamar dan melihat bunga itub, sesuatu di dalam dirinya—dan mungkin juga di dalam diri Javier—akan bergeser, meski sangat pelan.
***
Pintu kamar terbuka dengan suara yang cukup keras. Javier masuk sambil menarik dasinya, melebpasnya dengan satu gerakan kasar lalu melemparkannya ke atas meja. Jasnya menyusul, diletakkan asal di kursi. Raut wajahnya lelah, rahangnya mengeras seperti biasa setiap kali hari kerjanya terlalu panjang.
Namun langkahnya terhenti.
Matanya langsung tertuju pada sudut kamar.
Sarah berdiri di dekat jendela, membelakangi pintu. Ia memegang vas bunga dengan kedua tangan, menunduk sedikit, mencium kelopak peony putih itu berulang kali dengan ekspresi polos yang jarang Javier lihat. Rambutnya tergerai longgar, jatuh menutupi sebagian wajahnya. Gaun rumah yang ia kenakan sederhana, tapi entah kenapa pemandangan itu terasa… hangat.
Javier berdehem kecil.
“Kau membeli bunga?”
Sarah tersentak kecil, lalu menoleh. Begitu melihat Javier, wajahnya langsung berbinar. Senyuman lebarnya muncul tanpa dibuat-buat, seolah ia lupa siapa lelaki yang berdiri di depannya.
“Iya, Daddy,” jawabnya ringan. “Aku beli bunga supaya kamar ini lebih harum.”
Nada suaranya tulus. Tidak ada maksud tersembunyi. Hanya keinginan sederhana.
Javier melangkah mendekat, sepatunya berhenti tepat di belakang Sarah. Ia menatap bunga itu, lalu menatap wajah Sarah yang masih tersenyum, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru menunjukkan hasil karyanya.
“Bunga impor,” gumamnya, lebih pada pengamatan daripada pertanyaan.
Sarah mengangguk cepat. “Aku pilih yang wanginya lembut. Tidak menyengat. Aku pikir… Daddy tidak suka yang terlalu kuat.”
Kata-kata itu membuat Javier terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya berpindah dari bunga ke kamar, lalu kembali ke Sarah. Kamar itu memang terlihat berbeda. Tidak mencolok, tapi terasa lebih hidup. Lebih… ditinggali.
“Kau keluar hari ini?” tanyanya akhirnya.
Sarah mengangguk lagi, kali ini sedikit ragu. “Iya. Dengan pengawal. Aku hanya ke toko bunga. Aku tidak ke tempat lain.”
Seolah ia harus memberi laporan lengkap.
Javier mengangguk pelan. Ia meraih vas itu, mengangkatnya sedikit, memperhatikan susunannya. Tangannya besar, kontras dengan kelopak bunga yang lembut.
“Kau tidak perlu meminta izin untuk hal seperti ini,” katanya datar. “Selama kau bersama pengawal.”
Sarah menatapnya, lalu tersenyum kecil. “Aku tahu. Tapi aku tetap ingin Daddy tahu.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat sesuatu di d**a Javier bergerak tidak nyaman. Ia meletakkan kembali vas itu ke tempat semula.
“Bunganya bagus,” katanya akhirnya.
Bukan pujian panjang. Tapi cukup.
Sarah tersenyum lebih lebar, lalu tanpa sadar mendekat satu langkah. Jarak mereka kini sangat dekat. Javier bisa mencium aroma bunga yang bercampur dengan aroma sabun dari kulit Sarah. Bersih. Ringan. Tidak dibuat-buat.
Sarah menyadari jarak itu dan langsung berhenti, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menunduk sedikit, memainkan ujung gaunnya.
“Aku hanya ingin kamar ini terasa… lebih nyaman,” ucapnya pelan. “Karena ini kamar kita.”
Kata ‘kita’ menggantung di udara.
Javier menatapnya lama. Terlalu lama untuk ukuran biasa. Tatapannya tidak dingin kali ini, tapi juga tidak lembut. Seolah ia sedang menimbang sesuatu.
“Kau tidak perlu berusaha seperti ini,” katanya akhirnya. “Aku tidak menuntut apa pun darimu… selain yang sudah kita sepakati.”
Sarah mengangguk. “Aku tahu. Aku tidak sedang berusaha memenuhi tuntutan. Aku hanya… ingin.”
Javier menghela napas pelan, lalu mengusap wajahnya. Ia berjalan ke arah kamar mandi, berhenti sejenak di depan pintu.
“Aku mandi dulu,” katanya. “Jangan menungguku.”
Sarah mengangguk. “Baik, Daddy.”
Saat pintu kamar mandi tertutup, Sarah baru menyadari napasnya tertahan sejak tadi. Ia menghembuskannya perlahan, lalu menoleh kembali ke bunga itu. Tangannya menyentuh kelopak dengan hati-hati.
“Setidaknya dia tidak marah,” bisiknya.
Di balik pintu kamar mandi, Javier berdiri di bawah air yang mengalir, menundukkan kepala. Pikirannya kembali pada senyum Sarah. Pada cara gadis itu mencium bunga. Pada caranya berkata kamhar kita tanpa beban.
Ia menutup mata, mengeraskan rahangnya.
Ini tidak seharusnya memengaruhinya.
Namun ketika ia keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian dan melihat Sarah sudah berbaring di sisi ranjangnya, membelakangi, dengan vas bunga itu masih berdiri tenang di dekat jendela… Javier tahu, perlahan, sesuatu mulai berubah.
Dan perubahan itu tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.