Bab 11

1709 Kata
Pagi itu mansion kembali hidup lebih cepat dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, memantul di lantai marmer yang mengilap. Sarah baru saja selesai merapikan rambutnya ketika pintu kamar terbuka dan Javier masubk dengan kemeja santai berwarna abu-abu muda, lengannya digulung sampai siku. “Kita ke mall pagi ini,” ucapnya tanpa basa-basi. Sarah menoleh, sedikit terkejut. “Mall?” “Iya. Kau butuh baju. Sepatu. Apa pun yang perlu,” lanjut Javier sambil mengambil jam tangannya. Nada suaranya datar, seperti sedang menjadwalkan rapat, tapi bagi Sarah itu sudah lebih dari cukup. Jarang sekali Javier mengajaknya pergi dengan alasan yang… normal. Sarah tersenyum kecil. “Baik, Daddy.” Javier mengangguk, lalu berbalik keluar kamar, memberi isyarat agar Sarah bersiap. Sarah baru saja melangkah ke lemari ketika suara langkah lain terdengar dari lorong. Suara sepatu hak yang dikenalnya dengan sangat baik. “Sarah—!” Rose muncul di ambang pintu dengan dress cerah dan tas tangan mahal di lengannya. Wajahnya tampak ceria, matanya berbinar begitu melihat Sarah. “Kau sudah siap? Kita berangkat sekarang sebelum macet,” kata wanita paruh baya itu antusias. Sarah terdiam, bingung. “Berangkat… ke mana, Mama?” “Arisan!” jawab Rose cepat. “Teman-teman Mama sudah lama sekali ingin bertemu menantu baru Mama. Mereka penasaran.” Belum sempat Sarah menjawab, Javier sudah kembali melangkah mendekat, alisnya langsung berkerut. “Tidak,” katanya tegas. Rose menoleh tajam. “Tidak apa?” “Tidak ke arisan,” ulang Javier. “Sarah tidak akan nyaman di sana.” Rose menyilangkan tangan. “Kenapa tidak?” Javier menghela napas pendek, jelas menahan kesal. “Mama tahu sendiri. Ibu-ibu sosialita itu. Pertanyaannya tidak sopan, pembicaraannya penuh pamer. Sarah baru menikah denganku, dia tidak perlu duduk berjam-jam mendengarkan omongan seperti itu.” “Itu hanya arisan,” sanggah Rose. “Aku juga ada di sana.” “Justru itu,” jawab Javier dingin. “Mama terlalu sibuk mengurus citra. Aku tidak mau Sarah jadi tontonan.” Nada suaranya protektif, hampir posesif. “Aku sudah mengajaknya ke mall,” lanjutnya. “Biarkan kami pergi saja.” Rose mendengus, wajahnya langsung cemberut. “Jadi sekarang aku tidak boleh mengajak menantuku sendiri?” Javier tidak menjawab, tapi ekspresinya jelas: tidak. Sarah memperhatikan pertukaran itu dengan jantung berdebar. Ia melihat wajah Rose yang berubah murung, bibirnya mengerucut, matanya menyimpan kekecewaan yang nyata. Untuk sesaat, Sarah merasa bersalah. Ia melangkah maju satu langkah. “Daddy…” panggilnya pelan. Javier menoleh. Sarah menatap Rose, lalu kembali ke Javier. Tangannya saling menggenggam di depan perut, sikapnya sopan, sedikit ragu, tapi matanya jujur. “Aku tidak apa-apa ikut Mama,” ucapnya lembut. “Aku mau ikut arisan.” Javier mengernyit. “Sarah—” “Aku ingin,” potong Sarah cepat, sebelum nyalinya menghilang. “Mama sudah jauh-jauh datang. Aku tidak mau Mama kecewa.” Rose langsung menoleh ke Sarah, wajahnya seketika berubah. Senyum lebar merekah, cemberutnya menghilang seolah tidak pernah ada. “Benarkah?” tanya Rose, suaranya menghangat. “Kau mau ikut dengan Mama?” Sarah mengangguk. “Iya, Mama.” Rose tertawa kecil, lalu meraih tangan Sarah dengan penuh kemenangan. “Nah begitu dong. Tidak apa-apa, Javier. Kau terlalu khawatir.” Javier menatap Sarah lama. Tatapannya tajam, mencoba membaca apa yang ada di balik keputusan itu. Ia tidak suka dibantah, apalagi di depan orang lain. Tapi kali ini, ia menahan diri. “Kalau kau merasa tidak nyaman, kau pulang,” katanya akhirnya, suaranya rendah tapi penuh tekanan. “Langsung. Tanpa perlu izin.” Sarah mengangguk cepat. “Baik, Daddy.” Javier menghela napas, lalu mengangguk pada Rose. “Pastikan dia tidak kelelahan.” “Tentu,” jawab Rose ringan. “Aku bukan monster.” Beberapa menit kemudian, Sarah sudah duduk di mobil Rose. Javier berdiri di teras, memperhatikan mobil itu menjauh. Tangannya masuk ke saku celana, rahangnya mengeras. Ia tidak menyukai ini. Di dalam mobil, Rose terus berbicara, menceritakan siapa saja yang akan datang ke arisan, siapa yang paling cerewet, siapa yang paling suka pamer tas dan perhiasan. Sarah mendengarkan sambil tersenyum kecil, meski dadanya sedikit sesak. “Abaikan saja kalau mereka terlalu banyak bertanya,” kata Rose tiba-tiba, nadanya berubah lebih serius. “Kau istriku Javier sekarang. Tidak ada yang berhak merendahkanmu.” Sarah menoleh, sedikit terkejut. “Terima kasih, Mama.” Rose menepuk tangan Sarah lembut. “Kau cantik. Dan kau bagian dari keluarga ini.” Kata-kata itu menghangatkan hati Sarah, meski di sudut pikirannya, bayangan wajah Javier muncul. Tatapannya tadi. Nada suaranya. Kekhawatiran yang tidak ia ucapkan secara terang-terangan. Di sisi lain kota, Javier duduk di mobilnya sendiri, arah ke kantor berubah setengah jalan. Ia tidak langsung bekerja. Pikirannya tertinggal pada Sarah. Ia membenci kenyataan bahwa kini ada duniah lain yang menyentuh istrinya—bahkan dunia yang dibawa oleh ibunya sendiri—tanpa kendalinya penuh. Dan tanpa ia sadari, rasa itu bukan sekadar keinginan mengatur. Itu rasa tidak ingin kehilangan. *** Ruang arisan itu dipenuhi aroma parfum mahal dan suara tawa yang terdengar dibuat-buat. Kursi-kursi empuk tersusun melingkar, meja rendah di tengah dipenuhi kue-kue cantik yang disentuh lebih banyak oleh bmata daripada tangan. Sarah duduk di samping Rose, punggungnya tegak tapi bahunya terasa kaku, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Ia menunduk. Bukan karena malu, tapi karena ia tahu tatapan itu akan datang. Dan benar saja. Satu per satu pasang mata menatapnya. Tajam. Mengukur. Seperti sedang menilai barang di etalase. Tatapan yang berhenti di gaunnya yang sederhana, di sepatu yang tidak berlogo besar, di caranya duduk yang terlalu sopan untuk ruangan yang penuh kepura-puraan ini. Bisik-bisik mulai terdengar. Pelan, tapi cukup jelas. “Itu dia?” “Istrinya Javier?” “Yang terlihat kampungan itu?” “Serius? Dia menikah dengan Javier Horrison?” Sarah mendengarnya. Setiap kata. Setiap nada mencibir yang dibungkus senyum tipis. Dadanya mengencang, tapi ia tidak mengangkat kepala. Ia sudah terlalu sering berada di posisi ini dalam hidupnya. Ia tahu caranya bertahan: diam. Salah satu wanita dengan kalung berlian besar tersenyum miring, mencondongkan tubuh sedikit ke arah temannya. “Kupikir Javier akan menikah dengan model atau pengusaha. Bukan… ini.” Tawa kecil menyusul. Tawa yang tidak ramah. Rose yang sejak tadi tersenyum sopan, perlahan menghentikan gerakannya. Tangannya yang memegang cangkir teh berhenti di udara. Senyumnya memudar, digantikan tatapan dingin yang jarang ia perlihatkan di forum seperti ini. Ia menoleh ke arah suara itu. “Maaf,” ucap Rose, suaranya tenang tapi tegas. “Apa yang barusan kau katakan?” Ruangan mendadak sedikit lebih sunyi. Beberapa ibu-ibu sosialita saling berpandangan. Wanita yang tadi bicara tersenyum kaku. “Oh, tidak ada maksud apa-apa, Rose. Kami hanya terkejut saja. Maksudku… Sarah ini terlihat sederhana sekali.” Rose meletakkan cangkirnya perlahan. Bunyi kecil porselen menyentuh meja terdengar lebih keras dari seharusnya. “Sederhana bukan hinaan,” jawab Rose datar. “Dan bukan urusan kalian siapa yang pantas untuk anakku.” Sarah mengangkat kepala sedikit, menatap Rose dengan mata melebar. Ia tidak menyangka. Wanita lain menyela, suaranya dibuat lembut tapi penuh racun. “Kami hanya khawatir, Rose. Javier itu kelasnya tinggi. Perusahaannya besar. Masa iya istrinya tidak… sepadan?” Rose tersenyum tipis. Senyum yang tidak membawa kehangatan apa pun. “Sarah itu pantas untuk Javier,” katanya jelas, satu kata demi satu kata. “Lebih pantas daripada siapa pun yang duduk di ruangan ini dan menilai orang lain dari latar belakangnya.” Beberapa wajah langsung berubah. Ada yang tersinggung, ada yang pura-pura tidak peduli. “Tolong jaga ucapan kalian,” lanjut Rose. “Sarah adalah menantuku. Keluargaku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menghina dia.” Sarah menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia ingin berkata sesuatu, ingin meminta Rose berhenti, takut situasi semakin membesar. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Rose sudah meraih tangan Sarah dan menggenggamnya erat. “Lihat aku,” bisik Rose pelan, hanya untuk Sarah. Sarah menoleh. “Kau tidak lebih rendah dari siapa pun di sini,” lanjut Rose dengan suara lembut, kontras dengan ketegasannya tadi. “Jangan tundukkan kepalamu karena mereka.” Sarah mengangguk pelan. Matanya sedikit berkaca-kaca, tapi ia menahannya. Ia tidak mau menangis di tempat seperti ini. Salah satu ibu-ibu mencoba tertawa kecil, mencairkan suasana. “Ah, Rose selalu protektif. Kami hanya bercanda.” “Bercanda yang buruk,” jawab Rose tanpa ragu. Ruangan kembali hening. Tidak ada lagi yang berani melontarkan komentar terang-terangan. Namun tatapan itu masih ada. Lebih hati-hati, lebih terselubung. Sarah duduk lebih tegak sekarang. Tangannya masih digenggam Rose. Ada kehangatan yang mengalir dari sentuhan itu, membuat dadanya sedikit lebih ringan. Di luar sana, di tempat lain yang jauh dari ruang arisan ini, Javier sedang berada di kantor. Ia berdiri di depan jendela besar, ponselnya di tangan, membaca laporan yang bahkan tidak benar-benar ia pahami. Pikirannya melayang. Entah kenapa, dadanya terasa tidak nyaman sejak pagi. Ia membayangkan Sarah duduk di antara orang-orang yang tidak ia kenal sepenuhnya. Ia tahu dunia sosialita seperti apa. Ia tahu lidah mereka tajam, lebih tajam dari senyum yang mereka tampilkan. Rahang Javier mengeras. Jika ia tahu mereka berani menghina Sarah… Di ruang arisan, Rose akhirnya berdiri. “Sepertinya cukup sampai di sini. Sarah perlu istirahat.” Beberapa ibu-ibu mengangguk cepat, tidak ada yang berani menahan. Rose menarik Sarah berdiri, masih menggenggam tangannya. Saat mereka melangkah keluar, Sarah menoleh sekilas ke belakang. Tatapan-tatapan itu masih ada, tapi kini terasa berbeda. Tidak lagi merendahkan, melainkan… berhati-hati. Di dalam mobil, begitu pintu tertutup, Sarah akhirnya menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. “Maafkan aku, Mama,” ucapnya pelan. “Aku tidak mau membuat Mama tidak enak.” Rose menoleh, wajahnya melembut. “Kau tidak salah apa-apa, sayang. Mereka yang salah.” Sarah menunduk lagi. “Aku memang… tidak sekelas mereka.” Rose mengangkat dagu Sarah dengan lembut. “Dengarkan aku. Kau mungkin tidak lahir dengan kemewahan. Tapi kau punya harga diri. Dan itu jauh lebih mahal dari semua tas dan perhiasan mereka.” Air mata Sarah akhirnya jatuh, satu tetes, cepat ia hapus. Rose tersenyum kecil. “Javier memilihmu bukan tanpa alasan. Dan aku berdiri di pihakmu.” Kalimat itu menancap dalam-dalam di hati Sarah. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan Javier nanti ketika tahu tentang arisan ini. Ia tidak tahu apakah lelaki itu akan marah, atau justru semakin menutup dirinya. Tapi satu hal Sarah tahu pasti. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia tidak merasa sendirian menghadapi dunia yang menilainya terlalu keras. Dan yang berlaku kejam padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN