Bab 12

939 Kata
Mobil Rose baru saja berhenti di halaman mansion ketika Javier sudah berdiri di teras. Jas kerjanya masih rapi, tapi kancing paling atas sudah terbuka, dasinya entah sejak kapan dilepas. Tatapannya langsung tertuju pada Sarah yang turun dari mobil dengan langkah pelan. Ia melihatnya seketika. Wajah Sarah tidak ceria seperti pagi tadi. Senyumnya ada, tapi tipis, nyaris dipaksakan. Matanya sedikit redup, pundaknya turun, seolah membawa beban yang tidak ia ucapkan. Javier langsung melangkah mendekat. “Ada apa?” tanyanya, suaranya rendah, tajam, tapi jelas penuh perhatian. Sarah terkejut melihat Javier sudah menunggunya. Ia menunduk sedikit, kebiasaannya muncul begitu saja. “Tidak apa-apa, Daddy.” Jawaban itu justru membuat rahang Javier mengeras. Ia terlalu mengenal bahasa tubuh. Terlalu sering membaca ekspresi orang-orang yang menyembunyikan sesuatu. Rose turun dari mobil setelah Sarah. Begitu melihat tatapan Javier, wanita paruh baya itu langsung mengerti. “Masuk dulu,” kata Rose ringan. “Kita bicara di dalam.” Di ruang keluarga, suasana mendadak berat. Sarah duduk di ujung sofa, tangannya terlipat, jarinya saling mengait. Javier berdiri, tidak duduk, lengannya bersedekap, matanya bergantian menatap Sarah lalu Rose. “Apa yang terjadi di arisan?” tanyanya akhirnya, nada suaranya datar tapi berbahaya. Rose tersenyum tipis. Senyum yang mengandung makna lebih dalam. “Seperti yang kau bayangkan.” Javier mendengus pelan. “Mereka menatap Sarah seperti sedang menilai barang,” lanjut Rose tanpa bertele-tele. “Ada yang mencibir. Ada yang bertanya kenapa kau mau menikah dengan gadis seperti dia.” Sarah menunduk lebih dalam. Dadanya sesak mendengar ulang kata-kata itu. Javier berdecak keras. Bunyi itu memecah keheningan. “Ini yang aku bilang,” katanya dingin. “Ini alasan kenapa aku tidak setuju.” Ia melangkah mondar-mandir satu kali, lalu berhenti tepat di depan jendela. Tangannya mengepal. “Arisan itu kegiatan sampah tak berguna,” ucapnya tajam. “Isinya hanya perempuan-perempuan kosong yang hidup dari pamer dan merendahkan orang lain supaya merasa lebih tinggi.” “Javier,” tegur Rose pelan. “TIDAK,” potong Javier, suaranya meninggi sedikit. “Aku tidak mau Sarah duduk di ruangan seperti itu. Tidak sekarang. Tidak pernah.” Sarah mengangkat wajahnya, menatap Javier dengan mata berkaca-kaca. “Daddy… jangan marah ke Mama. Aku yang mau ikut.” Javier langsung menoleh padanya. “Aku tidak marah ke Mama,” katanya lebih pelan, tapi tekanannya terasa. “Aku marah pada diriku sendiri karena membiarkanmu ke sana.” Ia mendekat, lalu berjongkok di depan Sarah, memaksa gadis itu menatapnya. “Apa mereka menyakitimu?” tanyanya langsung. Sarah terdiam. Ia ingin berkata tidak. Ia ingin melindungi semua orang. Tapi tatapan Javier terlalu tajam, terlalu menuntut kejujuran. “Mereka… bicara,” jawabnya akhirnya lirih. “Tapi Mama membelaku.” Javier menarik napas panjang. Urat di rahangnya terlihat jelas. “Siapa?” tanyanya. “Daddy, tidak penting—” “Siapa,” ulang Javier, nadanya tidak menerima bantahan. Sarah menyebutkan satu nama. Lalu satu lagi. Pelan, ragu-ragu. Rose memperhatikan wajah putranya berubah. Tatapan Javier menggelap, bukan marah yang meledak-ledak, tapi marah dingin yang jauh lebih berbahaya. “Cukup,” kata Rose cepat. “Kau tidak perlu melakukan apa-apa, Javier.” Javier berdiri perlahan. “Aku tidak akan melakukan apa-apa,” jawabnya. “Aku hanya akan memastikan mereka tidak pernah berani membuka mulut tentang istriku lagi.” Kata *istriku* keluar tegas. Kepemilikan. Perlindungan. Sarah menatapnya, jantungnya berdebar. Ia belum pernah mendengar Javier mengucapkannya dengan nada seperti itu. “Mulai sekarang,” lanjut Javier, “kau tidak perlu ikut kegiatan sosial apa pun tanpa aku. Jika Mama ingin mengajakmu, itu harus kegiatan yang membuatmu nyaman. Bukan seperti ini.” Rose menghela napas, lalu mengangguk. “Baik. Aku akui aku salah menilai mereka.” Javier menoleh pada ibunya. “Aku tidak menyalahkan Mama. Tapi dunia ini kejam pada orang yang terlalu lembut.” Tatapannya kembali ke Sarah. “Dan kau terlalu lembut.” Sarah tersenyum kecil, getir. “Aku hanya… tidak mau merepotkan siapa pun.” Javier mendekat lagi, kali ini berdiri tepat di depannya. Tangannya terangkat, ragu sejenak, lalu akhirnya menyentuh dagu Sarah, mengangkat wajahnya pelan. “Mulai sekarang,” katanya rendah, “kau merepotkanku saja.” Sarah tercekat. Napasnya tertahan. “Aku tidak menikahimu supaya kau diinjak orang lain,” lanjut Javier. “Aku tidak peduli dari mana kau berasal. Kau istriku. Itu saja.” Air mata Sarah akhirnya jatuh. Ia tidak menangis terisak, hanya air mata diam yang mengalir tanpa suara. Javier melihatnya, dan sesuatu di dadanya terasa tertekan. Ia mengusap pipi Sarah dengan ibu jarinya, gerakan singkat, kaku, tapi nyata. “Pergi ke kamar,” katanya lebih lembut. “Istirahat.” Sarah mengangguk, berdiri perlahan, lalu melangkah pergi. Namun sebelum benar-benar menjauh, ia menoleh. “Terima kasih, Daddy.” Javier hanya mengangguk. Setelah Sarah menghilang dari pandangan, Rose menatap putranya lama. “Kau sadar, kan?” ucapnya pelan. “Sadar apa?” jawab Javier tanpa menoleh. “Kau mulai melindunginya bukan karena tanggung jawab,” kata Rose. “Tapi karena kau peduli.” Javier diam. Tangannya mengepal lagi. “Itu tidak relevan,” jawabnya dingin. Rose tersenyum kecil. “Kau boleh menyangkalnya. Tapi aku melihatnya.” Javier tidak menjawab. Ia berdiri sendiri di ruang keluarga, pikirannya kembali pada wajah Sarah yang murung, air matanya yang jatuh tanpa suara. Ia membenci arisan itu. Ia membenci dunia yang berani merendahkan istrinya. Dan yang paling ia benci… adalah kenyataan bahwa mulai sekarang, siapa pun yangb menyakiti Sarah, berarti berurusan langsung dengannya. Javier tidak akan pernah suka siapapun menyakiti istrinya. Walau Sarah hanya menjadi wadah untuk mendapatkan anak baginya. Tapi dirinya begitu menjaga gadis itu. Apalagi Mamanya begitu menyayangi Sarah sekarang. Seperti mertua yang begitu baik pada menantunya dan tidak bersikap jahat pada menantu miskin. Hah... memang mamanya itu begitu menyayangi Sarah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN