Lampu-lampu klub malam itu berpendar dalam warna ungu dan biru yang berkilau, memantul di meja kaca tempat Javier duduk dengan punggung tegap. Musik berdentum keras, bass-nya terasa samhpai ke d**a. Di sekelilingnya, tawa dan suara gelas beradu terdengar berbaur dengan aroma alkohol yang pekat.
Leonard sudah setengah terkulai di sofa empuk itu, tertawa keras tanpa arah. Victor lebih parah lagi. Kemeja mahalnya sudah terbuka dua kancing, wajahnya merah, dan tangannya sibuk merangkul wanita bayaran yang duduk di pangkuannya.
Salah satu wanita lain dengan gaun hitam pendek berjalan mendekati Javier. Rambutnya panjang bergelombang, bibirnya merah menyala. Ia menyentuh bahu Javier dengan lembut, mencoba tersenyum manja.
Javier tidak menoleh.
Wanita itu mendekat lagi, kali ini berbisik di dekat telinganya. Tangannya menyentuh d**a bidang lelaki itu seolah tanpa malu.
Javier akhirnya menoleh. Tatapannya dingin. Tidak ada ketertarikan, tidak ada senyum.
“Pergi.”
Suaranya rendah, tapi tegas.
Wanita itu sempat terdiam, lalu mencoba lagi dengan nada lebih menggoda. Javier mengangkat alis sedikit, lalu berdiri perlahan. Tubuhnya yang tinggi membuat wanita itu otomatis mundur satu langkah.
“Aku tidak suka disentuh orang asing,” katanya datar.
Leonard tertawa keras. “Astaga, Javier! Hidupmu terlalu kaku!”
Victor ikut menimpali dengan suara serak, “Istrimu tidak ada di sini. Santai saja!”
Javier tidak menjawab. Ia melirik jam tangan mahal di pergelangan tangannya. Pukul dua dini hari.
Tanpa memperdulikan ocehan dua sahabatnya, Javier mengambil ponsel dari saku jasnya. Ia membuka aplikasi CCTV rumah. Layarnya menampilkan beberapa sudut mansionnya yang megah.
Lalu ia memilih kamera kamar utama.
Di layar, Sarah terlihat tertidur di atas ranjang besar mereka. Rambut panjangnya terurai di bantal. Selimut menutupi tubuhnya sampai bahu. Tangannya terlipat di dekat pipi, wajahnya polos dan damai.
Javier terdiam.
Musik keras di sekelilingnya seolah meredup dalam pikirannya. Tatapannya melembut tanpa ia sadari.
Leonard menyenggolnya. “Apa yang kau lihat?”
Javier tidak menjawab. Ia hanya memperbesar tampilan wajah Sarah di layar.
Sarah sedikit bergerak dalam tidurnya. Bibirnya mengerucut sebentar seperti anak kecil yang sedang bermimpi. Javier tanpa sadar tersenyum tipis.
Lucu.
Sangat lucu.
Kontras sekali dengan dunia tempat ia duduk sekarang. Klub malam yang penuh kepalsuan, wanita-wanita yang datang karena uang, tawa yang kosong. Sementara di rumahnya, ada seorang gadis yang tadi siang dihina habis-habisan oleh sosialita sok angkuh, tapi tetap tersenyum sopan dan tidak membalas.
Dadanya terasa aneh.
Victor kembali bersuara. “Kau benar-benar melihat istrimu tidur? Serius?”
Javier mematikan layar ponsel dan menatap mereka datar. “Ya.”
Leonard menggeleng. “Kau berubah sejak menikah.”
Javier menyandarkan tubuhnya sebentar, menatap lampu-lampu neon yang berputar di langit-langit. Berubah?
Mungkin.
Dulu ia tidak peduli pulang jam berapa. Dulu ia tidak peduli siapa yang menunggu di rumah. Dulu ia bahkan tidak membuka CCTV untuk melihat siapa pun.
Sekarang ia merasa tidak nyaman berada terlalu lama di tempat seperti ini.
Ia berdiri.
Leonard dan Victor menatapnya bingung. “Hei! Kau mau ke mana?”
“Pulang.”
“Kau gila? Baru jam dua!”
“Justru itu saya mau pulang,” jawab Javier singkat.
Ia meninggalkan klub malam itu tanpa menoleh lagi. Udara malam menyambutnya saat ia keluar. Supir sudah siap di depan.
Dalam perjalanan pulang, Javier kembali membuka CCTV. Kali ini bukan hanya kamar, tapi juga koridor, ruang tamu, dapur. Semua tenang.
Saat mobil memasuki gerbang mansion, Javier turun cepat. Langkahnya mantap menaiki tangga menuju kamar utama.
Ia membuka pintu perlahan.
Lampu kamar remang. Aroma bunga import yang dibeli Sarah kemarin masih tercium samar. Wanginya lembut.
Sarah masih tertidur.
Javier mendekat ke sisi ranjang. Ia melepas jasnya pelan, lalu duduk di tepi ranjang. Matanya menatap wajah istrinya itu lama.
Ada sedikit bekas sembab di bawah mata Sarah.
Ingatannya kembali pada cerita Rose sore tadi. Para sosialita itu mencibir, menilai, merendahkan. Menyebut Sarah tidak pantas.
Rahangan Javier mengeras.
Ia mengangkat tangan, hampir menyentuh pipi Sarah, tapi ragu sejenak. Lalu ia menyentuhnya sangat pelan.
Hangat.
Sarah sedikit mengerutkan kening, lalu membuka mata perlahan. Pandangannya masih buram karena mengantuk.
“Kamu… pulang?” suaranya pelan.
Javier mengangguk tipis. “Mengganggu tidurmu?”
Sarah menggeleng pelan. Ia bangun setengah duduk. Rambutnya berantakan, wajahnya polos tanpa riasan.
“Kamu sudah makan?” tanyanya refleks.
Pertanyaan sederhana itu membuat Javier terdiam sesaat.
Di klub malam tadi, tidak ada yang bertanya apakah ia sudah makan. Tidak ada yang peduli.
“Aku sudah,” jawabnya pendek.
Sarah tersenyum kecil. “Bagus.”
Ia hendak kembali berbaring, tapi Javier menahan tangannya.
Sarah menatapnya bingung.
“Apa mereka mengatakan sesuatu yang membuatmu sedih?”
Sarah terdiam.
Ia mencoba tersenyum. “Tidak terlalu.”
“Sarah.”
Nada suara Javier berubah lebih dalam.
Sarah menunduk sedikit. “Mereka hanya… bertanya bagaimana aku bisa bersama kamu. Itu saja.”
Rahangan Javier kembali menegang.
“Mereka tidak perlu tahu.”
Sarah mengangguk pelan. “Aku tidak marah. Hanya… mungkin aku memang belum terbiasa dengan dunia seperti itu.”
Javier menatapnya tajam. “Kau tidak perlu terbiasa.”
Sarah terdiam, menatap suaminya dengan heran.
“Aku tidak menikahimu untuk menjadikanmu seperti mereka,” lanjut Javier pelan tapi tegas. “Dan kau tidak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun.”
Jantung Sarah berdegup sedikit lebih cepat.
“Termasuk padaku,” tambah Javier.
Kalimat itu membuat mata Sarah sedikit membesar.
Javier tidak pernah berbicara sepanjang ini soal perasaannya.
Ia menghela napas. “Jika ada yang berani merendahkanmu lagi, beri tahu aku.”
Sarah tersenyum lembut. “Mama sudah membelaku tadi.”
Javier mendengus pelan. “Itu sudah pasti.”
Hening sejenak.
Lalu Sarah, dengan polosnya, berkata, “Kamu tidak marah aku ikut arisan, kan?”
Javier menatapnya lama.
Ia teringat bagaimana ia melarang ibunya tadi pagi. Ia ingin membawa Sarah ke mall, menjauhkannya dari tatapan sinis orang-orang.
“Aku hanya tidak ingin kau terluka,” katanya akhirnya.
Sarah menunduk, lalu perlahan mendekat sedikit. “Aku tidak apa-apa.”
Javier menatap wajahnya yang begitu jujur.
Tiba-tiba ia menarik selimut, lalu berbaring di samping Sarah. Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur.
Sarah terdiam, jantungnya berdebar.
Javier menarik Sarah mendekat ke dadanya tanpa banyak bicara.
Sarah membeku sesaat, lalu perlahan bersandar.
“Tidur,” ujar Javier pelan.
Dadanya yang hangat membuat Sarah merasa aman. Aroma parfum maskulin Javier bercampur dengan wangi bunga yang tadi ia beli.
Di luar, malam masih panjang.
Tapi di dalam kamar itu, ada sesuatu yang berubah perlahan.
Javier yang biasanya dingin kini memeluk istrinya dengan erat, seolah tanpa sadar ia takut dunia luar menyentuh Sarah terlalu keras.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Sarah merasa bahwa mungkin… mungkin saja… Javier benar-benar mulai menganggapnya lebih dari sekadar kewajiban.
Sementara Javier sendiri menatap langit-langit kamar dalam gelap.
Ia sadar satu hal.
Ia bisa duduk di klub malam bersama wnanita mana pun.
Tapi hanya wajah polos Sarah yang membuatnya ingin pulang.