Bab 14

1038 Kata
Pagi itu ruang makan terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari masuk lewat jendela-jendela tinggi, memantul di permukaan meja panjang yang mengilap. Sarah berdiri di dekat meja, meletakkan piring berisi roti croissant yang mnasih hangat dan secangkir kopi hitam di depan kursi Javier. Aromanya menyebar lembut di udara. Javier duduk dengan punggung tegak, jas kerjanya masih rapi meski jam belum terlalu siang. Tatapannya dingin, mengamati setiap gerakan Sarah tanpa ekspresi yang mudah dibaca. Bukan marah. Bukan juga lembut. Hanya… mengawasi, seperti biasa. Sarah merasakan tatapan itu, tapi ia berpura-pura tidak menyadarinya. Tangannya sedikit gemetar saat ia merapikan posisi piring dan cangkir. Setelah semuanya rapi, ia mundur satu langkah, berdiri dengan sikap sopan, menunggu. “Duduk,” kata Javier singkat. Sarah mengangguk cepat. Ia menarik kursi di seberang Javier dan duduk dengan punggung lurus, tangannya terlipat di atas pangkuan. Seperti murid yang menunggu instruksi dari gurunya. Javier mengambil croissant itu, memotong sedikit, lalu menggigitnya tanpa banyak ekspresi. Ia menyeruput kopi hitamnya sebentar, lalu meletakkan cangkir itu kembali. “Cukup,” katanya pendek. Sarah menatapnya, sedikit ragu. “Tidak suka, Daddy?” “Tidak,” jawab Javier. “Ini baik. Aku hanya tidak mau sarapan yang banyak.” Jawaban itu membuat Sarah sedikit lega, meski wajahnya tetap terlihat hati-hati. Javier kemudian meraih dompet kulit hitam dari saku jasnya. Ia membukanya, mengeluarkan satu kartu hitam yang mengkilap, lalu meletakkannya di atas meja, mendorongnya ke arah Sarah. Kartu itu berhenti tepat di depan tangan Sarah. Sarah menaikkan sebelah alisnya tanpa sadar. “Ini… untuk apa, Daddy?” “Gunakan,” jawab Javier singkat. Sarah menatap kartu itu, lalu menatap Javier lagi. Ia tidak langsung menyentuhnya. Ada kebiasaan lama dalam dirinya yang membuatnya selalu ragu menerima sesuatu yang terlalu besar, terlalu mahal. “Malam ini,” lanjut Javier, “kita menghadiri pesta ulang tahun pernikahan rekan bisnisku.” Sarah mengangguk pelan. “Kau harus tampil pantas,” kata Javier dengan nada datar, seolah membicarakan dress code rapat penting. “Beli gaun terbaik. Dan termahal jika perlu. Pergi ke salon terbaik. Kau akan ditemani pengawal.” Sarah kembali mengangguk. “Jangan hemat,” tambah Javier. “Ini bukan soal uang. Ini soal citra.” Kata terakhir itu menggantung di udara. Sarah menunduk sedikit. “Baik, Daddy.” Ia akhirnya meraih kartu itu dengan dua tangan, memegangnya seperti memegang sesuatu yang rapuh. Kartu itu dingin di ujung jarinya, berat bukan karena fisiknya, tapi karena maknanya. “Ada warna yang Daddy mau?” tanyanya pelan, ragu-ragu. Javier menatapnya beberapa detik. “Hitam. Atau warna apa pun yang tidak membuatmu terlihat seperti jalang yang mencoba merayu pria. Aku hanya mau kau elegan dan sempurna.” Kalimat itu terdengar dingin, tapi jujur membuat Sarah agak tersanjung karena lelaki itu ingin dirinya berharga dan tidak terlihat murahan. Sarah mengangguk. “Aku mengerti.” Javier berdiri, merapikan manset kemejanya. “Aku akan menjemputmu malam ini. Pastikan kau siap tepat waktu.” Sarah mengangguk lagi. “Iya, Daddy.” Setelah Javier pergi, Sarah masih duduk beberapa saat di kursinya. Tangannya memegang kartu hitam itu, matanya menatap permukaannya yang mengkilap seperti sedang menatap pintu menuju dunia yang masih terasa asing baginya. Ia menghembuskan napas panjang. Beberapa menit kemudian, Sarah sudah berada di dalam mobil bersama pengawal. Kali ini ia duduk di kursi belakang, memandangi jalanan kota yang mulai ramai. Tangannya memegang tas kecil, di dalamnya ada kartu hitam itu, seolah benda itu bisa saja menghilang kalau tidak ia pastikan keberadaannya. Salon pertama yang mereka datangi besar, mewah, penuh kaca dan lampu putih terang. Seorang staf menyambutnya dengan senyum profesional, mempersilahkannya masuk. Pengawal berdiri tidak jauh, tetap mengawasi. Sarah duduk di kursi salon, menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya panjang, hitam, jatuh sederhana di bahunya. Wajahnya tidak buruk. Tapi ia tahu, malam ini bukan soal “tidak buruk”. Ini soal tampil pantas di samping Javier Horrison. “Madam ingin potong, atau hanya perawatan?” tanya salah satu staf. “Hanya dirapikan,” jawab Sarah. “Aku… mau tetap terlihat seperti diriku.” Staf itu tersenyum. “Tentu.” Sambil rambutnya ditata, Sarah memejamkan mata sejenak. Pikirannya melayang ke pesta nanti. Gedung besar. Lampu mewah. Orang-orang dengan pakaian mahal. Tatapan menilai. Bisik-bisik. Dunia yang kemarin saja sudah cukup membuatnya merasa kecil. Setelah dari salon, mereka pergi ke butik-butik besar. Gaun demi gaun dipilihkan oleh staf yang terlalu antusias. Ada yang terlalu terbuka. Ada yang terlalu berkilau. Ada yang terlalu mencolok. Sarah menggeleng pelan berkali-kali. “Aku mau yang sederhana,” katanya. “Tapi elegan.” Akhirnya, ia menemukan satu gaun. Warna hitam, potongannya bersih, tidak banyak hiasan, tapi jatuhnya anggun di tubuhnya. Tidak berteriak minta diperhatikan. Tapi juga tidak bisa diabaikan. Sarah menatap dirinya di cermin ruang ganti cukup lama. “Ini… aku,” bisiknya. Ia membelinya tanpa melihat harga. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menggunakan kartu itu tanpa rasa bersalah yang terlalu besar. Sore menjelang malam, Sarah kembali ke mansion. Ia naik ke kamar, menggantung gaun itu dengan hati-hati. Ia berdiri lama di depan lemari, menatap pantulan dirinya di cermin. “Tenang,” bisiknya pada diri sendiri. “Ini cuma pesta.” Tapi ia tahu, bagi Javier, ini bukan “cuma”. Malam datang. Ketika Javier masuk ke kamar, Sarah sudah siap. Rambutnya ditata sederhana, riasannya lembut, gaun hitam itu membingkai tubuhnya dengan pas. Ia berdiri di dekat jendela, menunggu, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Javier berhenti melangkah saat melihatnya. Tatapannya menyapu Sarah dari kepala sampai kaki, perlahan, menilai. “Bagus,” katanya akhirnya. Hanya satu kata. Tapi cukup membuat Sarah menghembuskan napas lega. “Mari,” ujar Javier, lalu berbalik. Sarah mengikuti, langkahnya sedikit ragu tapi mantap. Di dalam mobil, suasana hening. Lampu-lampu kota mulai bermunculan satu per satu di luar jendela. Sarah memegang tas kecilnya erat-erat, sementara Javier menatap lurus ke depan. Ketika mereka sampai di gedung pesta, musik lembut terdengar dari dalam. Lampu-lampu besar menerangi pintu masuk. Orang-orang dengan pakaian mahal berlalu-lalang. Begitu Javier turun, beberapa orang langsung menoleh. Beberapa mengenalinya. Beberapa menatap Sarah di sampingnya. Javier melangkah lebih dulu, lalu berhenti, menoleh sedikit ke belakang. Ia mengulurkan lengannya. Sarah terdiam sejenak, lalu meraih lengan itu dengan hati-hati. Dan untuk pertama kalinya, ia melangkah masuk ke dunia Javier bukan sebagai bayangan, tapi sebagai seseorang yang berdiri di sisinya. Sebagai istri lelaki kaya raya itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN